Sena tertidur di kamar tamu karena kelelahan. Dion mengintip dari balik pintu untuk memastikan. Tiba-tiba, Grace, sepupu Dion, datang dan mengagetkan Dion. "Hai, Ionny!" seru Grace. "Duh, jangan ngagetin gitu dong!" balas Dion. "Ngapain ngintip kamar tamu? Coba kulihat!" ucap Grace sembari mendorong Dion dari depan pintu kamar tamu. "Ah, siapa itu, Ionny?" tanya Grace sembari menyeringai. "Cuma teman." jawabnya singkat. "Ah, cuma teman?! Lalu, mengapa kau mengintipnya?" tanya Grace curiga. "Cuma memastikan saja." jawabnya. "Memastikan bagaimana? Dia kelihatan baik-baik saja, kok! Ada sesuatu, yah?" Grace kembali menyeringai. "Ish, pikiranmu ini aneh-aneh aja!" pekik Dion. "Terserahlah." ucap Grace sambil berlalu.
Pukul 6 sore Sena terbangun. Dilihatnya jam yang berada di dinding kamar tamu Dion. Ia terkejut karena hari sudah gelap. Dion datang dan membawa segelas susu coklat untuk Sena. "Eits, nggak biasanya kamu membuatkan minuman untuk tamu!" Grace menyeringai lagi. Dion hanya cemberut menanggapi sepupunya itu.
"Sen, ini susu coklat hangat buat kamu. Diminum dulu!"
"Makasih." ucap Sena sambil meneguk susu coklat yang masih panas tersebut. "Pueh!"
"Masih panas, Sen. Pelan-pelan saja."
"Tapi, ini udah gelap. Aku harus buru-buru pulang."
"Kenapa nggak bermalam di sini saja? Kan, besok libur!" ajak Dion.
"Tapi, aku udah ngrepotin kamu."
"Ah, nggak apa-apa! Udah, habisin dulu minumnya!"
Diam-diam Grace mengintip dari balik pintu kamar tamu tersebut dan tertawa kecil.
"Kamu ngapain, Grace?" tanya Dion. "Dia siapa, Di?" tanya Sena. "Hehe, aku Grace, sepupu Dion, salam kenal."
"Salam kenal. Aku Sena." balas Sena. "Umm, aku cuma mau memberitahu aja kalau makan malam sudah siap. Yuk, ke ruang makan sekarang!" ajak Grace.
Sena, Grace, Rudy, dan Dion pun berkumpul di ruang makan dan makan bersama. Beberapa menit berlalu, Dion yang sudah selesai makan beranjak dari tempat duduknya. Rudy ikut beranjak dan mencolek sambal yang menempel di bibir Dion. Sena menggerutu. "Kenapa pembantu di sini laki-laki, sih?" gumamnya. Grace yang tak sengaja mendengar gumaman Sena tertawa kecil. "Cemburu, nih?" godanya. "Eh, nggak! nggak! Apaan sih?!" celetuk Sena. Grace menyeringai dan beranjak.
Sena duduk di kamar tamu Dion. Grace menghampirinya. "Mikirin kejadian tadi?" tanyanya. "Maksud kamu?" tanya balik Sena. "Well, aku hanya menebak saja. Mau main game? Dion suka sekali main game ini, nanti aku ajak Dion sekalian saja."
"Ah, tidak usah! Mungkin dia sibuk atau apalah, jangan diganggu!"
"Umm, ngomong-ngomong, kamu yang selalu mengajak Dion bermain keluar?"
"Ya."
"Berkat kamu Dion mulai sedikit demi sedikit kembali ceria."
"Memangnya dia kenapa?"
"Yah, masalah kurangnya kasih sayang membuatnya lebih memilih sendiri."
"Oh, begitukah? Ngomong-ngomong, kamu ini kenapa daritadi kelihatan mencurigai aku?"
"Mencurigai bagaimana?"
"Mana kutahu! Kamu ini!"
Grace terkejut dan tertawa. Sementara Sena terheran-heran sendiri.
"Hai, lagi ngomongin apa?" tanya Dion yang datang.
"Nggak kok. Aku pergi dulu, ya." jawab Grace.
"Apa kalian selalu seperti itu?" tanya Sena.
"Apanya?" tanya Dion balik.
"Kau dan Rudy melakukan hal seperti tadi?"
"Kau ini mengada-ada saja, Sen. Rudy itu memang seperti kakakku sendiri."
Sena terdiam.
"Main game, yuk!" ajak Dion.
Mereka pun bermain game sampai tertidur.
============
bersambung~
Welcome to my blog and join my story! ^o^)/~ I hope you enjoy and like it (\^.^)/ Comment your opinions about my post! Thanks (\^.^)/~
Sabtu, 09 Maret 2013
Jumat, 08 Februari 2013
I Hope We Always Together Part V
Sena P.O.V
Perasaanku pada Dion yang sudah lama kupendam ingin sekali aku ungkapkan padanya. Tapi, akankah ia menerimanya? Tapi apakah perasaan ini takkan pernah tersampaikan? Aku bingung. Ah, suatu saat ada waktunya aku mengatakannya.
Seperti biasanya, aku mengajak Dion bermain layangan. Tapi, ia terlihat murung. "Kamu murung kenapa?" tanyaku. "Ah, aku gak apa-apa kok!" jawabnya. "Gak usah bohong, Di. Kalau ada masalah, cerita aja ke aku. Aku kan temen kamu." Dion hanya menunduk. "Ah, bosan, nih! Main di sana, yuk!" ajakku sambil menunjuk air mancur yang berada di tengah lapangan. Aku menarik tangannya.
Kami berdua pun bersandar di pinggir air mancur. Terlintas dipikiranku untuk menjaili Dion yang manis ini. Kucipratkan air yang ada di air mancur ini. "Apaan sih, Sen?!" bentaknya. "Habisnya kamu ngantuk mulu. Ya, aku bangunin kamu aja." jelasku. "Ngantuk darimana?!" Dion membalas menciprat ke arahku. "Habis kamu nunduk mulu." kataku sambil mencipratnya balik. Dion membalasku. Dan akhirnya aku dan dia main ciprat-cipratan.
"Udah, ah! Nanti basah!" bentaknya. "Biarin!" Aku menjulurkan lidah. Dan akhirnya kami pun berhenti karena kami sudah basah kuyup. "Ntar kalau aku masuk angin gimana? Kamu mau tanggung jawab?!" tanyanya dengan nada marah. "Kamu tanya kok kayak cwe minta pertanggungjawaban ke cwo-nya? Haha!" candaku. "Aih, aku serius, nih!" Dion menghentakkan kakinya. Aku menghela nafas. "Ya udah, aku antar kamu pulang aja. Gak usah ngambek, jelek tahu!" Aku mencubit pipinya.
Aku mengantar pulang Dion, tentu saja dengan sepedaku ini. Setelah sampai di rumahnya, ia segera pergi mandi. Sementara aku akan pergi pulang. "Eh, kamu mau kemana?" tanyanya. "Ya mau pulang lah." jawabku. "Gak ikut mandi aja?" tawarnya. "Hah?" Aku terkejut. "Maksud kamu?" tanyaku memastikan. "Kamu mandi di rumahku aja. Kan gara-gara aku juga kamu jadi basah kuyup." jelasnya. "Umm, gak usah. Aku mandi di rumahku aja." tolakku. "Ayolah, kamu kan udah nganter aku pulang!" rajuknya. Ia terlihat sangat imut. "Ya udah deh, terserah kamu aja."
Aku menunggu Dion selesai mandi. Setelah Dion selesai, aku terkejut. Dion hanya memakai handuk. "Kok muka kamu merah begitu, Sen?" tanyanya. "Gak apa-apa." jawabku canggung. "Ya sudah. Kamar mandinya di sebelah sana." katanya. Aku pun dengan cepat masuk ke kamar mandinya. Kamar mandinya agak besar untuk satu orang. Aku membuka keran shower yang ada di kamar mandi itu. Dan kupandang cermin di depanku. Wajahku memerah.
Setelah aku selesai, aku menghampiri Dion yang sedang minum teh yang mungkin disediakan oleh maidnya di ruang tamunya. "Eh, trus aku pake baju apaan?" tanyaku. Dion yang yang tadi menyeruput tehnya, tersedak. "Uhuk..uhuk.. kamu ngagetin aku aja. Nih, bajunya!" Dion melemparkan kaus hitam dan celana selutut ke arahku. "Baju siapa, nih?" tanyaku. "Bajunya Rudy." jawabnya singkat. "Rudy siapa?" tanyaku lagi. "Orang yang selalu kamu sebut maid" jawabnya sembari menyeruput tehnya. "Oh, maidmu."
Aku langsung memakai baju itu tanpa berpindah ke ruangan lain. "Heh, kamu gak malu apa?" tanyanya terkejut. "Nggak. Lagian di sini nggak ada cwe, kan? Ngapain malu? Apa jangan-jangan kamu yang malu ngliat aku? Haha." candaku. "Ih, kamu ini!" ucapnya sembari mencubit lenganku. Aku terkikik geli melihat tingkahnya.
Setelah aku selesai berpakaian, aku mengambil pakaian basahku dan bersegera pulang. Tiba-tiba, ketika kusampai di depan pintu rumah Dion, hujan turun dengan derasnya. "Wah, hujan!" seruku. "Nginep aja di rumahku." katanya. Aku tersentak. "Eh, beneran?" tanyaku. "Iya." jawabnya. Dalam hati tentu aku serasa bagai di alam mimpiku sendiri.
=========
Dion P.O.V
Seperti biasanya, aku selalu di ajak bermain layangan oleh Sena. Yah, akibat perlakuan teman sekelasku, aku jadi malas. Tapi, lagi-lagi Sena mengembalikkan mood-ku. Tentu saja dengan kejailannya. Dan akibatnya badanku jadi basah kuyup. Aku dibuat cemberut lagi oleh candanya, tapi itu tidak seperti rasa jengkelku pada teman sekelasku itu. Ini mungkin rasa jengkel yang membuat orang merasa lebih baik.
Dan dia pun mengantarku pulang. Kutawari dia untuk mandi di rumahku. Sempat ia menolaknya, tapi pada akhirnya dia pun menerimanya karena aku bersikeras.Entah mengapa aku begitu bersikeras, mungkin karena aku ingin membalas kebaikannya. Lalu, aku mandi. Dan setelah selesai aku menghampirinya hanya dengan balutan handuk di bagian bawah tubuhku. Wajahnya memerah. Aku sedikit khawatir apakah wajahnya memerah karena ia menunggu terlalu lama dan kedinginan atau entahlah karena apa.
Dan giliranku menunggunya selesai mandi. Sambil menunggu aku menyeruput teh yang disediakan Rudy. Dan aku tersedak karena Sena mengagetkanku. Aku memberinya pakaian Rudy karena pakaianku mungkin akan kekecilan jika dipakai olehnya.
Dia memakai pakaiannya di depanku. Tentu saja aku terkejut. Tapi, lagi-lagi aku hanya tertegun dengan jawabannya. Setelah ia selesai dan membenahi pakaiannya yang basah, hujan pun turun dengan derasnya. Jadi kutawari saja teman lamaku ini untuk menginap di rumahku. Anehnya, ia berbinar seperti ditawari untuk tinggal di surga.
=========
bersambung~
Perasaanku pada Dion yang sudah lama kupendam ingin sekali aku ungkapkan padanya. Tapi, akankah ia menerimanya? Tapi apakah perasaan ini takkan pernah tersampaikan? Aku bingung. Ah, suatu saat ada waktunya aku mengatakannya.
Seperti biasanya, aku mengajak Dion bermain layangan. Tapi, ia terlihat murung. "Kamu murung kenapa?" tanyaku. "Ah, aku gak apa-apa kok!" jawabnya. "Gak usah bohong, Di. Kalau ada masalah, cerita aja ke aku. Aku kan temen kamu." Dion hanya menunduk. "Ah, bosan, nih! Main di sana, yuk!" ajakku sambil menunjuk air mancur yang berada di tengah lapangan. Aku menarik tangannya.
Kami berdua pun bersandar di pinggir air mancur. Terlintas dipikiranku untuk menjaili Dion yang manis ini. Kucipratkan air yang ada di air mancur ini. "Apaan sih, Sen?!" bentaknya. "Habisnya kamu ngantuk mulu. Ya, aku bangunin kamu aja." jelasku. "Ngantuk darimana?!" Dion membalas menciprat ke arahku. "Habis kamu nunduk mulu." kataku sambil mencipratnya balik. Dion membalasku. Dan akhirnya aku dan dia main ciprat-cipratan.
"Udah, ah! Nanti basah!" bentaknya. "Biarin!" Aku menjulurkan lidah. Dan akhirnya kami pun berhenti karena kami sudah basah kuyup. "Ntar kalau aku masuk angin gimana? Kamu mau tanggung jawab?!" tanyanya dengan nada marah. "Kamu tanya kok kayak cwe minta pertanggungjawaban ke cwo-nya? Haha!" candaku. "Aih, aku serius, nih!" Dion menghentakkan kakinya. Aku menghela nafas. "Ya udah, aku antar kamu pulang aja. Gak usah ngambek, jelek tahu!" Aku mencubit pipinya.
Aku mengantar pulang Dion, tentu saja dengan sepedaku ini. Setelah sampai di rumahnya, ia segera pergi mandi. Sementara aku akan pergi pulang. "Eh, kamu mau kemana?" tanyanya. "Ya mau pulang lah." jawabku. "Gak ikut mandi aja?" tawarnya. "Hah?" Aku terkejut. "Maksud kamu?" tanyaku memastikan. "Kamu mandi di rumahku aja. Kan gara-gara aku juga kamu jadi basah kuyup." jelasnya. "Umm, gak usah. Aku mandi di rumahku aja." tolakku. "Ayolah, kamu kan udah nganter aku pulang!" rajuknya. Ia terlihat sangat imut. "Ya udah deh, terserah kamu aja."
Aku menunggu Dion selesai mandi. Setelah Dion selesai, aku terkejut. Dion hanya memakai handuk. "Kok muka kamu merah begitu, Sen?" tanyanya. "Gak apa-apa." jawabku canggung. "Ya sudah. Kamar mandinya di sebelah sana." katanya. Aku pun dengan cepat masuk ke kamar mandinya. Kamar mandinya agak besar untuk satu orang. Aku membuka keran shower yang ada di kamar mandi itu. Dan kupandang cermin di depanku. Wajahku memerah.
Setelah aku selesai, aku menghampiri Dion yang sedang minum teh yang mungkin disediakan oleh maidnya di ruang tamunya. "Eh, trus aku pake baju apaan?" tanyaku. Dion yang yang tadi menyeruput tehnya, tersedak. "Uhuk..uhuk.. kamu ngagetin aku aja. Nih, bajunya!" Dion melemparkan kaus hitam dan celana selutut ke arahku. "Baju siapa, nih?" tanyaku. "Bajunya Rudy." jawabnya singkat. "Rudy siapa?" tanyaku lagi. "Orang yang selalu kamu sebut maid" jawabnya sembari menyeruput tehnya. "Oh, maidmu."
Aku langsung memakai baju itu tanpa berpindah ke ruangan lain. "Heh, kamu gak malu apa?" tanyanya terkejut. "Nggak. Lagian di sini nggak ada cwe, kan? Ngapain malu? Apa jangan-jangan kamu yang malu ngliat aku? Haha." candaku. "Ih, kamu ini!" ucapnya sembari mencubit lenganku. Aku terkikik geli melihat tingkahnya.
Setelah aku selesai berpakaian, aku mengambil pakaian basahku dan bersegera pulang. Tiba-tiba, ketika kusampai di depan pintu rumah Dion, hujan turun dengan derasnya. "Wah, hujan!" seruku. "Nginep aja di rumahku." katanya. Aku tersentak. "Eh, beneran?" tanyaku. "Iya." jawabnya. Dalam hati tentu aku serasa bagai di alam mimpiku sendiri.
=========
Dion P.O.V
Seperti biasanya, aku selalu di ajak bermain layangan oleh Sena. Yah, akibat perlakuan teman sekelasku, aku jadi malas. Tapi, lagi-lagi Sena mengembalikkan mood-ku. Tentu saja dengan kejailannya. Dan akibatnya badanku jadi basah kuyup. Aku dibuat cemberut lagi oleh candanya, tapi itu tidak seperti rasa jengkelku pada teman sekelasku itu. Ini mungkin rasa jengkel yang membuat orang merasa lebih baik.
Dan dia pun mengantarku pulang. Kutawari dia untuk mandi di rumahku. Sempat ia menolaknya, tapi pada akhirnya dia pun menerimanya karena aku bersikeras.Entah mengapa aku begitu bersikeras, mungkin karena aku ingin membalas kebaikannya. Lalu, aku mandi. Dan setelah selesai aku menghampirinya hanya dengan balutan handuk di bagian bawah tubuhku. Wajahnya memerah. Aku sedikit khawatir apakah wajahnya memerah karena ia menunggu terlalu lama dan kedinginan atau entahlah karena apa.
Dan giliranku menunggunya selesai mandi. Sambil menunggu aku menyeruput teh yang disediakan Rudy. Dan aku tersedak karena Sena mengagetkanku. Aku memberinya pakaian Rudy karena pakaianku mungkin akan kekecilan jika dipakai olehnya.
Dia memakai pakaiannya di depanku. Tentu saja aku terkejut. Tapi, lagi-lagi aku hanya tertegun dengan jawabannya. Setelah ia selesai dan membenahi pakaiannya yang basah, hujan pun turun dengan derasnya. Jadi kutawari saja teman lamaku ini untuk menginap di rumahku. Anehnya, ia berbinar seperti ditawari untuk tinggal di surga.
=========
bersambung~
Jumat, 01 Februari 2013
I Hope We Always Together Part IV
Sena P.O.V
Kupandangi Dion yang sedang belajar di kelas sebrang dari jendela kelasku. “Hoy!” kejut Geo, temanku yang berada di bangku sebelahku. “Apaan sih, bro?” ketusku. “Ngliatin apa, bro?” tanyanya. “Ngliatin pemandangan sekolah ini.” jawabku. Geo melihatku dengan pandangan tidak yakin. Aku berusaha membuat wajahku agar tampak meyakinkan dan akhirnya berhasil. “Oh. Ya sudah. Tuh, sebentar lagi pak guru udah mau masuk kelas, bro.” katanya. “Thanks, bro.” balasku. Kegiatan sekolahku pun dimulai sampai selesai dan pulang sekolah.
Setelah sampai, Dion memasang muka cemberut. Muka cemberutnya itu membuatku terpesona padanya. “Udah nggak usah vemberut. Mukamu malah jelek kayak monyet tahu!” ledekku. “Huh, dasar! Sekarang mau main apa?” tanyanya. “Layangan!” jawabku dengan semangat. “Anginnya bagus, nih!” tambahku. “Trus, dimana layangannya?” tanyanya. “Tunggu sebentar. Aku beli di sana dulu.” Aku pun berlari menuju penjual layangan yang tak jauh dari tempat Dion menungguku. Aku membeli layangannya dan kembali ke tempat Dion menungguku.
Kupandangi Dion yang sedang belajar di kelas sebrang dari jendela kelasku. “Hoy!” kejut Geo, temanku yang berada di bangku sebelahku. “Apaan sih, bro?” ketusku. “Ngliatin apa, bro?” tanyanya. “Ngliatin pemandangan sekolah ini.” jawabku. Geo melihatku dengan pandangan tidak yakin. Aku berusaha membuat wajahku agar tampak meyakinkan dan akhirnya berhasil. “Oh. Ya sudah. Tuh, sebentar lagi pak guru udah mau masuk kelas, bro.” katanya. “Thanks, bro.” balasku. Kegiatan sekolahku pun dimulai sampai selesai dan pulang sekolah.
Ketika pulang sekolah aku akan ngajak Dion untuk bermain
layangan seperti dulu di lapangan yang tak jauh dari rumahnya dan rumahku hanya
bersepeda. Jadi, aku pulang, mengganti pakaianku, makan siang, dan bersepeda
menuju rumah Dion.
Ketika sampai di rumah Dion, aku mengetuk pintu rumahnya.
Pintu rumahnya terbuka, namun yang muncul adalah seorang lelaki, tapi bukan
ayah Dion. “Selamat siang. Dionnya ada?” tanyaku. “Selamat siang. Kamu siapanya
tuan muda dan ada urusan apa?” tanya lelaki itu. “Mungkin ini maidnya Dion.” pikirku.
“Aku temannya dan aku mau ngajak Dion main di lapangan sana.” jawabku. “Ya
sudah, masuk dulu. Nanti saya panggilkan.” Lelaki itu mempersilahkanku masuk
dan pergi memanggil Dion.
Aku menunggu. Akhirnya Dion muncul. “Kamu mau ngajak aku
main apa?” tanyanya. “Udahlah nanti kamu tahu sendiri.” jawabku. “Oh, ya sudah.
Aku pergi bareng temnku.” pamitnya pada maidnya itu. “Iya. Hati-hati di jalan
ya, Tuan Muda!” ucap maidnya sembari mencubit pipinya. Dalam hati aku cemburu.
Dion cemberut, sementara maidnya tertawa kecil. “Panggil Dion saja, gak usah
Tuan Muda. Jangan cubit pipiku dong!” perintahnya. “Iya. Saya usahakan.” balas maid-nya.
Dion membonceng sepedaku. “Pegangan dong, Dion! Nanti jatuh
loh!” peringatku. “Nggak ah!” balasnya. Akhirnya aku percepat laju sepedaku
supaya Dion berpegangan erat padaku dan dan berhasil. Aku merasa senang. “Jangan
cepat-cepat, Sen!” teriaknya. “Sebentar lagi juga sampai kok. Kamu pegangan
yang erat aja!” kataku.
Setelah sampai, Dion memasang muka cemberut. Muka cemberutnya itu membuatku terpesona padanya. “Udah nggak usah vemberut. Mukamu malah jelek kayak monyet tahu!” ledekku. “Huh, dasar! Sekarang mau main apa?” tanyanya. “Layangan!” jawabku dengan semangat. “Anginnya bagus, nih!” tambahku. “Trus, dimana layangannya?” tanyanya. “Tunggu sebentar. Aku beli di sana dulu.” Aku pun berlari menuju penjual layangan yang tak jauh dari tempat Dion menungguku. Aku membeli layangannya dan kembali ke tempat Dion menungguku.
“Nih, layangannya! Sesuai dengan warna kesukaan kita, merah
dan kuning. Yuk, terbangin! Nanti gantian, dimulai dari aku dulu ya!” seruku. “Oke!”
serunya juga. Dion memegang layangannya dan menerbangkannya. “Wah, anginnya emang
bagus, nih! Layangannya kelihatan bagus! ” serunya. “Siapa dulu yang pilih!
Haha!” Aku senang bisa kembali bermain-main bersama Dion.
Selang beberapa lama, akhirnya gantian Dion yang memainkan
layangannya. Kemampuanhya sama seperti dulu.
Kami pun bermain hingga sore. “Nih, layangannya, Sen!” Dion memberikan
layangannya padaku. “Untuk kamu aja. ” balasku. “Beneran? Wah, makasih banyak,
Sen!” Dion kelihatan seneng banget. “Ya udah. Yuk, pulang! Aku anterin.
Pegangan yang erat kayak tadi lho!” perintahku. Wajahnya cemberut seketika. “Udah
nggak usah pake cemberut segala. Ayo naik!” kataku sambil mencubit pipinya.
==========
Dion P.O.V
Selang beberapa lama setelah pulang sekolah, Sena ke rumahku
dan mengajakku bermain. Entah apa yang akan kita berdua mainkan. Dan kebiasaan
yang tidak kusukai dari Rudy, pelayanku, yaitu mencubit pipiku dan memanggilku “Tuan
Muda” terlihat dihadapan Sena. Tentu saja aku malu, tapi Sena tak terlihat
seperti menahan tawa, syukurlah.
Sena mengajakku ke lapangan dengan sepedanya. Dia menyuruhku
untuk berpegangan dengan erat. Tentu saja aku tidak mau. Dan akhirnya Sena
ngebut. Karena aku takut jadi aku berpegangan dengan erat. Akhirnya sampai
juga. Aku mulai jengkel dengan Sena.
Tapi, lagi-lagi Sena dapat membuatku senang setelah ia
membuatku jengkel. Aku senang dapat memainkan layangn lagi. Aku berhenti
memainkan layangan bukan karena bosan, tapi karena aku tak punya kawan seperti
Sena. Aku senang karena Sena kembali bersamaku lagi meski masih ada sisi yang
membuatku jengkel darinya.
Dia membeli layangan dengan warna kesukaanku dan dia, merah
dan kuning. Jika layangan itu miliku, pasti layangan itu akan menjadi layangan
kesukaanku.
Hari sudah sore. Seperti permohonan yang dikabulkan, Sena
memberikan layangan itu padaku. Sena mengantarku pulang dengan sepedanya dan
lagi-lagi aku harus berpegangan dengan erat karena dia ngebut lagi. Wajahku
yang tadinya cerah, jadi kusut gara-gara ulahnya juga.
==========
bersambung~
Senin, 28 Januari 2013
I Hope We Always Together Part III
Sena P.O.V
Lagi-lagi aku bertemu Dion di stasiun kereta api yang tak jauh dari sekolah setelah pulang sekolah. "Hai! Kita bertemu lagi! Mau makan bareng?" tawarku. Dion diam saja, mungkin dia malu-malu. "Ayolah, kita kan teman lama, nggak usah sungkan!" paksaku sembari menarik tangannya menuju sebuah restoran yang tak jauh dari sana.
"Nah, sekarang kau mau makan apa? Nanti aku yang bayar." tawarku. "Nasi goreng dan es jeruk aja." jawabnya. "Wah, kau masih sama yah! Apakah kau masih suka main layang-layang di festival seperti dulu?" tanyaku. "Udah tidak." jawabnya singkat.
Mendengar jawabannya yang selalu singkat padaku selalu membuatku merasa tidak enak. "Umm, maaf sebenarnya aku gak lupa kok sama kamu." ucapnya. "Wah, bagus dong kalau begitu! Kita tak perlu canggung seperti ini. Ngomong-ngomong, kamu udah gak berminat lagi main layang-layangan, kenapa?" tanyaku. "Yah, hanya bosan saja." jawabnya kemudian.
Makanan yang kami pesan sudah tersedia di atas meja kami. Setelah kami selesai menyantap makan siang kami. "Eh, aku boleh main ke rumah kamu nggak? Sekalian kasih salam dan titip salam ke orang tua kamu juga." tanyaku. "Hmm, tentu." jawabnya. "Jadi, dimana rumahmu?" tanyaku. "Nggak jauh kok, cukup jalan kaki aja dari sini."
Setelah sampai di rumahnya yang ternyata tak terlalu jauh dari tempat tinggalku, jadi aku bisa main ke sini lain waktu. "Maaf kalau rumahku agak kelihatan berantakan." katanya. "Ah, gak apa-apa. Orang tua kamu lagi kerja?" Dia mengangguk. "Jadi, kita mau main atau mau ngerjain pr bareng nih?" tanyaku. "Ngerjakan pr bareng. Ayo ke kamarku!" ajaknya.
Aku masuk ke kamar baru Dion yang rapi banget. "Wah, kamarmu rapi banget! Kamu rajin banget!" seruku dengan gemas sembari mencubit pipi Dion. "Ih, sakit! Yang bersihin kamarku itu pelayanku." tuturnya. "Ternyata Dion punya seorang maid." godaku. Dion cemberut. "Maid itu buat perempuan, yang buat laki-laki itu butler, tau!" pekiknya. "Aduh, betapa imutnya dia kalau cemberut" pikirku. "Ah, sama saja artinya, Dion! Yuk, ngerjain pr-nya aja!" bujukku. Akhirnya aku dan Dion mengerjakan pr kita masing-masing bersama hingga selesai.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.00. "Kryuuuuk!" perutku berbunyi. Dion menoleh ke arahku. "Kau lapar? Umm, pembantuku sedang keluar. Hmm, aku buatkan makanan ya." katanya dengan nada yang meragukan. "Umm, tidak usah. Aku bisa makan di rumah." ucapku. "Sudahlah, tidak apa-apa." katanya dan berlari ke dapur rumahnya. Aku menunggu dan perasaanku mulai tak enak. Aku pun ikut menuju ke dapur rumahnya. "Ya ampun!" seruku. Dion terlonjak kaget ketika melihatku dan menunduk. Dapur rumahnya jadi berantakan. "Udahlah tidak apa-apa, nanti aku yang bereskan sekalian memasak makanannya. Sekarang kamu duduk saja." hiburku. Aku mulai membersihkan alat makan dan kompornya yang terkena makanan, lalu mulai memasak.
"Nah, makanannya udah jadi! Silahkan dinikmati bersama!" seruku. "Terima kasih." katanya. "Yang seharusnya berterima kasih itu aku." balasku. Lalu, kami menyantap makanan itu bersama.
Jam sudah menjukkan pukul 15.30. "Sudah sore, nih. Aku pulang dulu ya. Makasih banyak." pamitku sembari mengelus kepala Dion. Dan aku pulang ke rumahku yang berada di kos sederhana tak jauh dari rumahnya.
=============
Dion P.O.V
Lagi-lagi aku bertemu dengannya lagi di stasiun. Dan dia mengajakku makan siang bersama. Dia ingin ke rumahku dan aku membolehkannya lagipula aku bosan berada sendirian di rumah karena Rudy, pelayanku sedang mengerjakan tugas sambilannya.
Yah, meski dia sempat membuatku cemberut karena aku mempunyai "maid" dan dia mencubit pipiku juga. Tapi, dia kembali mencairkan suasana. Di saat dia lapar, aku coba untuk memasak, dan hasilnya adalah dapurku berantakan, aku gemetaran dan malu, tapi Sena yang menenangkanku juga membersihkan semuanya. Yah, dia memang sahabat yang baik, yang terkadang membuatku jengkel juga. Rasanya kalau ada dia itu seperti kembali memainkan layang-layangku yang dulu, terkadang menyenangkan, tapi juga menjengkelkan ketika tersangkut di atas pohon atau benangnya putus. Humph, aku rindu dengan hal-hal itu. Dan ketika ia mengelus kepalaku sebelum ia pulang, rasanya sudah lama sekali aku tak merasakan hal ini.
=============
bersambung~
Lagi-lagi aku bertemu Dion di stasiun kereta api yang tak jauh dari sekolah setelah pulang sekolah. "Hai! Kita bertemu lagi! Mau makan bareng?" tawarku. Dion diam saja, mungkin dia malu-malu. "Ayolah, kita kan teman lama, nggak usah sungkan!" paksaku sembari menarik tangannya menuju sebuah restoran yang tak jauh dari sana.
"Nah, sekarang kau mau makan apa? Nanti aku yang bayar." tawarku. "Nasi goreng dan es jeruk aja." jawabnya. "Wah, kau masih sama yah! Apakah kau masih suka main layang-layang di festival seperti dulu?" tanyaku. "Udah tidak." jawabnya singkat.
Mendengar jawabannya yang selalu singkat padaku selalu membuatku merasa tidak enak. "Umm, maaf sebenarnya aku gak lupa kok sama kamu." ucapnya. "Wah, bagus dong kalau begitu! Kita tak perlu canggung seperti ini. Ngomong-ngomong, kamu udah gak berminat lagi main layang-layangan, kenapa?" tanyaku. "Yah, hanya bosan saja." jawabnya kemudian.
Makanan yang kami pesan sudah tersedia di atas meja kami. Setelah kami selesai menyantap makan siang kami. "Eh, aku boleh main ke rumah kamu nggak? Sekalian kasih salam dan titip salam ke orang tua kamu juga." tanyaku. "Hmm, tentu." jawabnya. "Jadi, dimana rumahmu?" tanyaku. "Nggak jauh kok, cukup jalan kaki aja dari sini."
Setelah sampai di rumahnya yang ternyata tak terlalu jauh dari tempat tinggalku, jadi aku bisa main ke sini lain waktu. "Maaf kalau rumahku agak kelihatan berantakan." katanya. "Ah, gak apa-apa. Orang tua kamu lagi kerja?" Dia mengangguk. "Jadi, kita mau main atau mau ngerjain pr bareng nih?" tanyaku. "Ngerjakan pr bareng. Ayo ke kamarku!" ajaknya.
Aku masuk ke kamar baru Dion yang rapi banget. "Wah, kamarmu rapi banget! Kamu rajin banget!" seruku dengan gemas sembari mencubit pipi Dion. "Ih, sakit! Yang bersihin kamarku itu pelayanku." tuturnya. "Ternyata Dion punya seorang maid." godaku. Dion cemberut. "Maid itu buat perempuan, yang buat laki-laki itu butler, tau!" pekiknya. "Aduh, betapa imutnya dia kalau cemberut" pikirku. "Ah, sama saja artinya, Dion! Yuk, ngerjain pr-nya aja!" bujukku. Akhirnya aku dan Dion mengerjakan pr kita masing-masing bersama hingga selesai.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.00. "Kryuuuuk!" perutku berbunyi. Dion menoleh ke arahku. "Kau lapar? Umm, pembantuku sedang keluar. Hmm, aku buatkan makanan ya." katanya dengan nada yang meragukan. "Umm, tidak usah. Aku bisa makan di rumah." ucapku. "Sudahlah, tidak apa-apa." katanya dan berlari ke dapur rumahnya. Aku menunggu dan perasaanku mulai tak enak. Aku pun ikut menuju ke dapur rumahnya. "Ya ampun!" seruku. Dion terlonjak kaget ketika melihatku dan menunduk. Dapur rumahnya jadi berantakan. "Udahlah tidak apa-apa, nanti aku yang bereskan sekalian memasak makanannya. Sekarang kamu duduk saja." hiburku. Aku mulai membersihkan alat makan dan kompornya yang terkena makanan, lalu mulai memasak.
"Nah, makanannya udah jadi! Silahkan dinikmati bersama!" seruku. "Terima kasih." katanya. "Yang seharusnya berterima kasih itu aku." balasku. Lalu, kami menyantap makanan itu bersama.
Jam sudah menjukkan pukul 15.30. "Sudah sore, nih. Aku pulang dulu ya. Makasih banyak." pamitku sembari mengelus kepala Dion. Dan aku pulang ke rumahku yang berada di kos sederhana tak jauh dari rumahnya.
=============
Dion P.O.V
Lagi-lagi aku bertemu dengannya lagi di stasiun. Dan dia mengajakku makan siang bersama. Dia ingin ke rumahku dan aku membolehkannya lagipula aku bosan berada sendirian di rumah karena Rudy, pelayanku sedang mengerjakan tugas sambilannya.
Yah, meski dia sempat membuatku cemberut karena aku mempunyai "maid" dan dia mencubit pipiku juga. Tapi, dia kembali mencairkan suasana. Di saat dia lapar, aku coba untuk memasak, dan hasilnya adalah dapurku berantakan, aku gemetaran dan malu, tapi Sena yang menenangkanku juga membersihkan semuanya. Yah, dia memang sahabat yang baik, yang terkadang membuatku jengkel juga. Rasanya kalau ada dia itu seperti kembali memainkan layang-layangku yang dulu, terkadang menyenangkan, tapi juga menjengkelkan ketika tersangkut di atas pohon atau benangnya putus. Humph, aku rindu dengan hal-hal itu. Dan ketika ia mengelus kepalaku sebelum ia pulang, rasanya sudah lama sekali aku tak merasakan hal ini.
=============
bersambung~
Sabtu, 26 Januari 2013
I Hope We Always Together Part II
Sena P.O.V
Hari pertama aku berada di sekolah ini. Hmm, tak buruk juga. Anehnya aku merasa kalau Dion juga bersekolah di sini. Aku berharap ia bersekolah di sini juga. Aku rindu dengan tawanya yang lucu itu dan wajahnya yang manis itu.
Dan pelajaran dimulai hingga selesai, karena aku sudah kenal dengan beberapa siswa, jadi aku tidak terlihat canggung. Aku dan teman baruku ini menuju ke kantin sekolah ini. Kulihat seorang siswa tengah duduk sendirian, ingin rasanya aku mendekatinya dan mengajaknya berteman. Akhirnya aku meminta pindah dan aku mendekati siswa itu. Siswa itu memalingkan wajahnya. Karena au tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, ku ajak berkenalan saja. "Hai, namaku Sena Aditya, siswa baru di sini. Siapa namamu?" tanyaku. "Aku Dion." jawabnya singkat. Aku terkejut karena namanya Dion. "Dion Terata?" tanyaku sekali lagi. Siswa itu menoleh. "Kamu tau darimana?" tanyanya. Aku kegirangan gak karuan. "Wah, ini benar-benar kau! Masa kamu tidak ingat sama aku, tema masa kecilku" Siswa itu kembali memalingkan wajahnya. "Aku lupa." jawabnya dengan singkat. "Gubrak!" rasanya seperti tertimpa bata, dia melupakan aku. "Ya sudahlah tidak apa-apa. Kita bisa mulai dari awal. Sampai ketemu nanti."
=============
Dion P.O.V
Sudah lama aku tak bertemu Sena dan ia berada di sini di saat aku sendirian. Sebenarnya aku hanya berpura-pura cuek dan tak ingat padanya. Aku masih mengingat kejahilannya padaku, namun kemudian kembali berbaikan, dan aku masih ingat ketika ia mengusap kepalaku. Aneh, aku merasa sudah lama sekali aku tidak merasakan hal seperti ini.
=============
Hari pertama aku berada di sekolah ini. Hmm, tak buruk juga. Anehnya aku merasa kalau Dion juga bersekolah di sini. Aku berharap ia bersekolah di sini juga. Aku rindu dengan tawanya yang lucu itu dan wajahnya yang manis itu.
Dan pelajaran dimulai hingga selesai, karena aku sudah kenal dengan beberapa siswa, jadi aku tidak terlihat canggung. Aku dan teman baruku ini menuju ke kantin sekolah ini. Kulihat seorang siswa tengah duduk sendirian, ingin rasanya aku mendekatinya dan mengajaknya berteman. Akhirnya aku meminta pindah dan aku mendekati siswa itu. Siswa itu memalingkan wajahnya. Karena au tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, ku ajak berkenalan saja. "Hai, namaku Sena Aditya, siswa baru di sini. Siapa namamu?" tanyaku. "Aku Dion." jawabnya singkat. Aku terkejut karena namanya Dion. "Dion Terata?" tanyaku sekali lagi. Siswa itu menoleh. "Kamu tau darimana?" tanyanya. Aku kegirangan gak karuan. "Wah, ini benar-benar kau! Masa kamu tidak ingat sama aku, tema masa kecilku" Siswa itu kembali memalingkan wajahnya. "Aku lupa." jawabnya dengan singkat. "Gubrak!" rasanya seperti tertimpa bata, dia melupakan aku. "Ya sudahlah tidak apa-apa. Kita bisa mulai dari awal. Sampai ketemu nanti."
=============
Dion P.O.V
Sudah lama aku tak bertemu Sena dan ia berada di sini di saat aku sendirian. Sebenarnya aku hanya berpura-pura cuek dan tak ingat padanya. Aku masih mengingat kejahilannya padaku, namun kemudian kembali berbaikan, dan aku masih ingat ketika ia mengusap kepalaku. Aneh, aku merasa sudah lama sekali aku tidak merasakan hal seperti ini.
=============
bersambung~
Jumat, 18 Januari 2013
I Hope We Always Together Part I
"Hey, kembalikan layanganku dong!" teriak
Dion. "Nggak mau! Sini ambil kalau bisa!" balas Sena. Dion mulai
mendekati Sena. Sena tersandung batu dan terjatuh dan Dion pun ikut terjatuh di
atas tubuh Sena.
"Yes! Akhirnya aku dapat!" seru Dion sembari merebut layangannya dari tangan Sena. Sena bangkit dari tempatnya. "Aduh!" Sena mengaduh dan memegangi lututnya yang berdarah. "Eh, kamu nggak apa-apa?" tanya Dion yang mulai khawatir. "Ah, ini cuma luka biasa! Nggak apa-apa kok." jawab Sena. "Tunggu sebentar ya!" Dion pergi, sementara Sena menunggu di bawah pohon.
Akhirnya Dion kembali membawa kotak P3K dan sebotol air. "Tahan ya.." ucap Dion sembari menuangkan air ke lutut Sena yang berdarah. "Uh!" seru Sena. Dion mulai menatap Sena dengan tatapan meyakinkan. Lalu, Dion meneteskan obat merah dan membalutnya dengan perban. "Selesai!" seru Dion. Sena berdiri dan melenggangkan kakinya. "Makasih. Eh, terbangkan layanganmu dong!" pinta Sena. "Oke!" Dion menerbangkan layangannya. "Indah. Umm, berjanjilah kalau kita akan selalu bersama. Kita ini teman, bukan?" pinta Sena. Dion mengangguk. Mereka pun mengaitkan kelingking mereka.
Mereka berdua selalu bermain bersama-sama, sampai suatu ketika Dion akan pindah keluar kota karena orang tuanya dipindah tugaskan. "Maafkan aku, Sen. Aku tidak bisa menepati janjiku." ucap Dion yang mulai meneteskan air mata. "Kita bisa bertemu suatu hari nanti kok." Sena tersenyum dan mulai menenangkan Dion. "Semoga bertemu kembali." ucap Sena. Dion dan orang tuanya mulai menaiki kereta. Dion melambai dan Sena membalasnya.
=============
Sena
7 tahun berlalu. Dengan beasiswanya, Sena dipindahkan ke sekolah di luar kota. Di sekolah barunya, ia merasakan adanya Dion. Namun, ia mulai berpikir bahwa ia tidak bisa terus berharap akan bertemu Dion. Perasaannya yang terpendam pada Dion sejak kecil, masih ia simpan rapat-rapat dalam hatinya.
=============
Dion
Sudah 7 tahun ia tak bertemu temannya, Sena. Dion sudah menganggap Sena sebagai saudaranya sendiri.
Ia berjalan-jalan di sekitar sekolah dan terlihat siswa baru yang duduk di tepi air mancur sekolah. Terlintas dipikirannya bahwa siswa itu adalah Sena, tapi ia mulai berpikir kalau ia mungkin hanya berhalusinasi dan pergi.
=============
bersambung~
"Yes! Akhirnya aku dapat!" seru Dion sembari merebut layangannya dari tangan Sena. Sena bangkit dari tempatnya. "Aduh!" Sena mengaduh dan memegangi lututnya yang berdarah. "Eh, kamu nggak apa-apa?" tanya Dion yang mulai khawatir. "Ah, ini cuma luka biasa! Nggak apa-apa kok." jawab Sena. "Tunggu sebentar ya!" Dion pergi, sementara Sena menunggu di bawah pohon.
Akhirnya Dion kembali membawa kotak P3K dan sebotol air. "Tahan ya.." ucap Dion sembari menuangkan air ke lutut Sena yang berdarah. "Uh!" seru Sena. Dion mulai menatap Sena dengan tatapan meyakinkan. Lalu, Dion meneteskan obat merah dan membalutnya dengan perban. "Selesai!" seru Dion. Sena berdiri dan melenggangkan kakinya. "Makasih. Eh, terbangkan layanganmu dong!" pinta Sena. "Oke!" Dion menerbangkan layangannya. "Indah. Umm, berjanjilah kalau kita akan selalu bersama. Kita ini teman, bukan?" pinta Sena. Dion mengangguk. Mereka pun mengaitkan kelingking mereka.
Mereka berdua selalu bermain bersama-sama, sampai suatu ketika Dion akan pindah keluar kota karena orang tuanya dipindah tugaskan. "Maafkan aku, Sen. Aku tidak bisa menepati janjiku." ucap Dion yang mulai meneteskan air mata. "Kita bisa bertemu suatu hari nanti kok." Sena tersenyum dan mulai menenangkan Dion. "Semoga bertemu kembali." ucap Sena. Dion dan orang tuanya mulai menaiki kereta. Dion melambai dan Sena membalasnya.
=============
Sena
7 tahun berlalu. Dengan beasiswanya, Sena dipindahkan ke sekolah di luar kota. Di sekolah barunya, ia merasakan adanya Dion. Namun, ia mulai berpikir bahwa ia tidak bisa terus berharap akan bertemu Dion. Perasaannya yang terpendam pada Dion sejak kecil, masih ia simpan rapat-rapat dalam hatinya.
=============
Dion
Sudah 7 tahun ia tak bertemu temannya, Sena. Dion sudah menganggap Sena sebagai saudaranya sendiri.
Ia berjalan-jalan di sekitar sekolah dan terlihat siswa baru yang duduk di tepi air mancur sekolah. Terlintas dipikirannya bahwa siswa itu adalah Sena, tapi ia mulai berpikir kalau ia mungkin hanya berhalusinasi dan pergi.
=============
bersambung~
Langganan:
Komentar (Atom)
