Ketika Reito menatap gelang yang ia temukan di atas meja belajarnya saat di perjalanan. Terbayang wajah seorang lelaki yang berhubungan dengan gelangnya tersebut, namun wajahnya terkabur dari ingatannya. Kepala Reito terlalu sakit untuk mencoba mengingatnya. Akhirnya Reito pun sampai di tempat tujuannya dan memulai sekolahnya.
Reito melalui hari-harinya dengan bersekolah di
sana. Reito berjalan-jalan sambil melamun di lapangan dekat sekolahnya.
Tiba-tiba, bola basket menghantam kepalanya. Kepala Reito terasa sangat sakit.
Reito teringat hari-hari bersama Ryuki yang selalu menemaninya dan membuatnya
merasa nyaman. Namun, sekarang Ryuki sudah menghilang. Yang terbesit di
pikirannya sekarang adalah dimana keberadaan Ryuki.
Keesokan harinya, Reito yang sedang menyiapkan
buku catatannya, tanpa sengaja mendengar ucapan temannya bahwa di sekolahnya
akan ada murid dan guru baru. “Eh, katanya kita ada guru dan murid baru
loh!”seru teman perempuan sekelas Reito. “Iya. Kudengar murid baru itu bernama
Ryu Seiki kelas 10-01 dan guru baru itu bernama Ryu Akise mengajar kimia
kelas kita.”seru yang lainnya. “Hey, bagaimana guru baru kita itu?” tanya teman
perempuan yang berada di sebelah Reito. “Kudengar guru kita itu masih muda dan tampan
dan katanya sih dia sangat ramah.”
“Wah, aku ingin melihat seperti apa rupanya! Bagaimana dengan rupa murid baru itu?”
“Umm, entahlah. Tapi, katanya dia memiliki mata yang buatan di sebelah kiri dan dia juga sangat pandai.”
“Wah, aku ingin melihat seperti apa rupanya! Bagaimana dengan rupa murid baru itu?”
“Umm, entahlah. Tapi, katanya dia memiliki mata yang buatan di sebelah kiri dan dia juga sangat pandai.”
Lalu, guru yang menjadi buah bibir murid-murid
perempuan di kelasnya tiba di kelasnya. “Selamat pagi, semua. Saya Ryu Akise 27
tahun. Saya guru baru di sini. Mohon bantuannya.” kenal Akise. Setelah
itu, pelajaran pun dimulai hingga istirahat telah tiba.
Seperti biasanya pada jam istirahat, Reito pergi
ke perpustakaan untuk meminjam dan membaca beberapa buku. Reito akan mengambil
buku aritmatika untuk ia pelajari, namun ada seorang siswa yang akan
mengambilnya juga. “Kamu mau mengambilnya ju..” suara Reito terputus ketika ia
melihat siswa tersebut. Siswa itu berkacamata dan poninya menutupi mata
kirinya. “Umm, kau murid baru itu?” tanya Reito. “Iya. Boleh aku ambil bukunya?”
tanyanya. “Boleh.” jawab Reito. Siswa itu pun mengambil buku tersebut dan pergi
bersama temannya.
Reito terpaku di depan rak buku. Menatap gelang
yang selalu ia pakai. Ia merenung, apakah Ryuki telah kembali. Reito
menggelengkan kepalanya. Dan mengambil buku yang lain, lalu kembali ke
kelasnya.
Pelajaran kembali dimulai hingga usai dan bel
tanda pulang sekolah telah berbunyi.Sebelum Reito pulang ke rumahnya, ia duduk
di tepi danau yang tempatnya tak jauh dari sekolahnya. Ia menatap langit yang
cerah itu. Direnungkannya kejadian yang menimpanya ketika di perpustakaan tadi.
Apakah Ryuki kembali? Kata-kata itu
kembali terngiang di kepalanya.
Tak lama kemudian, jauh di sebelahnya, seorang
laki-laki duduk menatap danau tersebut. Reito menghampirinya. “Hay, boleh aku
duduk di sampingmu?” tanya Reito. “Tentu.” jawabnya dan menoleh ke arah Reito.
Reito terkejut, ternyata laki-laki itu siswa baru tersebut. “Kau yang tadi itu
kan. Mengapa setiap kau melihatku kau selalu kelihatan terkejut? Apakah ada
yang salah dengan diriku?” tanyanya. “Tidak. Kau hanya.. mirip dengan teman
lamaku, itu saja.” jawab Reito sembari duduk di sebelahnya.
Siswa itu diam menatap pemandangan yang ada di
hadapannya. “Ah iya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Sekio Reito dari
kelas 11-03. Dan kau?” tanya Reito. “Aku Ryu Seiki, kelas 10-01.”jawabnya.
“Kelihatannya kau ada masalah. Ada apa?” tanya Reito. “Tidak ada.”jawabnya.
“Ayolah, ceritakan saja! Anggap saja kita sudah lama kenal.” bujuk Reito. “Aku
hanya bingung soal perasaan. Itu saja.”
Reito menatap mata kanan Seiki. Matanya terlihat
kosong. “Memang apa saja yang bisa kau rasakan?” tanya Reito. “Tidak ada,
semuanya terasa hambar. Dan orang-orang yang mengenalku selalu saja menyebutku
tak memiliki rasa, kecuali Akito, teman baruku dan ia memiliki persamaan denganku. Apakah kau juga akan berpikiran
seperti itu padaku?” tanyanya. “Tidak, karena sebenarnya kamu memiliki hal yang
lebih baik. Hanya saja kau tidak mengetahuinya.”jawab Reito sembari tersenyum
pada Seiki. Sementara Seiki hanya menatapnya dengan tatapannya yang kosong. "Apakah kau mengingatku, Ryuki-chan?" tanya Reito tiba-tiba. "Apa?" Ryuki terlihat terkejut. "Tidak." kata Reito, tanpa sadar ia menunjukan ekspresi kecewanya.
Reito mengambil sebungkus roti dari tasnya dan
memotongnya sebagian. “Terimalah!” Seiki mengambil roti pemberian Reito dan
memakannya sedikit. Reito melemparkan sedikit rotinya ke permukaan air danau
dan ikan-ikan yang ada di dalamnya memakannya. Seiki sepertinya tertarik ingin
mencobanya. Ia pun mencobanya dan alhasil remah rotinya dimakan oleh seekor
bebek yang lucu. Seiki tertawa kecil. Reito terpaku. Sudah lama ia tak
mendengar tawa yang ia rindukan itu. Setitik air mata membasahi matanya. “Ada
apa?” tanya Seiki. “Tidak.” jawab Reito. Seiki menatap gelang yang Reito pakai.
“Gelang yang indah.” ucapnya. “Ini gelang pemberian ibuku sewaktu aku masih
kecil dan juga peninggalan kawan lamaku. Ini untukmu saja.” Reito melepaskan
gelang tersebut dan memakaikannya ke pergelangan tangan Seiki. “Terima kasih.
Gelang ini terlihat berharga bagimu, akan aku jaga.” katanya.
Keesokan harinya ketika pulang sekolah, Reito
hendak pergi ke perpustakaan terlebih dahulu untuk mengembalikan buku yang
dipinjamnya, lalu pergi menuju danau. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat
Seiki melompat ke danau. “Ryu-kun!!” teriaknya dengan panik dan segera menyelamatkan
Seiki yang setengah tenggelam. Reito berhasil menyelamatkan Seiki. “Akhirnya
aku mendapatkannya.” ucapnya sembari tersenyum kemudian ia tak sadarkan diri. Dengan
mata berkaca-kaca, Reito segera membawa Seiki ke rumahnya yang tak jauh dari sana
dan memberikan pertolongan pertama. Reito menatap tangan Seiki yang menggenggam
gelangnya. Matanya kembali meneteskan air mata.
Tak lama kemudian, Seiki terbangun. “Aku dimana?”
tanyanya. “Kamu ada di rumahku. Kamu tidak apa-apa kan?” Pipi Seiki memerah. “Mengapa
kamu menangis?” Reito memeluk Seiki dengan erat. “Tidak apa-apa.” Seiki
terdiam. Reito melepaskan pelukannya. “Aku antar kau pulang. Dimana rumahmu?”
tanya Reito. “Dengan keadaan seperti ini?” kata Seiki. “Ah iya, aku akan
memberimu pakaian. Tunggu sebentar.” Reito pergi menuju kamarnya, lalu
mengganti pakaiannya dan mengambil pakaian untuk Seiki. “Ini, pakailah!”
Seiki pun mengganti pakaiannya. “Rumahku ada di
depan jembatan dekat sekolah.” ucapnya. “Baiklah. Ayo naik ke sepedaku.” ajak
Reito yang sudah menaiki sepedanya. Seiki pun menaikinya di belakang. “Pegang
yang erat, agar kau tak jatuh.” Seiki memegang erat baju Reito. Akhirnya,
mereka pun sampai di rumah Seiki. Seiki tak mengucapkan sepatah kata pun. Sementara
Reito kembali ke rumahnya.
Setiap pulang sekolah, Reito dan Seiki selalu
bersama di tepi danau. Tertawa bersama. Seiki yang sebelumnya dingin dan kaku
menjadi ceria bersama dengan Reito.
“Kalian teman dekat Seiki?” tanya Professor
Seiki. “Iya.” jawab Reito dan Akito serempak. “Sebenarnya, Seiki itu aku temukan
di sebuah jurang. Jadi, dia bukanlah keluargaku.”ucap Professor Seiki yang
tertunduk. Dalam hati Reito, ia
terkejut. Di dalam pikirannya, ia mulai berpikir kalau Seiki adalah Ryuki. Sementara
Akito mencoba menenangkan Professor Akise. Dokter keluar dari ruang pemeriksaan
Seiki, katanya Seiki mengalami koma. Mereka bertiga terkejut mendengar hal itu.
Kembali Reito mengingat apa yang terakhir diucapkan Seiki, yaitu “Terima kasih.”
Setelah kejadian itu, Reito pergi ke danau. Hujan
pun turun dengan derasnya. Danau itu menjadi kelabu. Air mata Reito mengalir
deras, bercampur bersama air hujan yang menimpa wajahnya.
Hari-hari selama Seiki koma, Reito selalu
menjenguknya ketika pulang sekolah dan memberikan bunga yang sama setiap
harinya. Suatu ketika, ia tercengang ketika Seiki masih menggenggam gelang
pemberiannya. Digenggamnya tangan Seiki dan dilepaskannya kembali. Tiba-tiba,
jari Seiki bergerak sedikit. Reito pun segera memanggil dokter, lalu Professor
Akise melalui ponselnya. Dokter memeriksa keadaan. Sementara Professor Akise
dan Reito menunggu di ruang tunggu. Setelah dokter keluar dari ruangan itu, ia
mengatakan bahwa Seiki mengalami sedikit perkembangan. Professor Seiki dan Reito
senang mendengar hal itu. Akito yang baru datang menjenguk Seiki turut merasa senang.
"Hey! Kau terlihat perhatian sekali pada Seiki." kata Akise. "Dia mengingatkanku pada teman masa laluku yang sempat aku lupakan." Reito melihat mata Akito yang berbeda warna satu sama lain. "Ngomong-ngomong, ada apa dengan matamu?" tanya Reito. "Dari lahir mataku sudah seperti ini." jawab Akito. Tak lama kemudian Akito pun pergi pulang.
"Hey! Kau terlihat perhatian sekali pada Seiki." kata Akise. "Dia mengingatkanku pada teman masa laluku yang sempat aku lupakan." Reito melihat mata Akito yang berbeda warna satu sama lain. "Ngomong-ngomong, ada apa dengan matamu?" tanya Reito. "Dari lahir mataku sudah seperti ini." jawab Akito. Tak lama kemudian Akito pun pergi pulang.
Beberapa minggu kemudian, Seiki pun tersadar. Dengan
perasaan senang Reito mengunjungi Seiki. Ketika sampai di sana, ia kembali
melihat tatapan kosong Seiki. Professor Akise kelihatannya sudah mengatakan
yang sebenarnya kepada Seiki dan Seiki menatapnya tajam dari kejauhan. Reito hanya terdiam, lalu pulang ke rumahnya.
Keesokkan harinya di danau, Reito melihat Seiki
yang berada di tepi danau. “Hey, apa kabar?” sapa Reito. “Baik.” jawabnya. “Kau
tidak suka dengan kehadiranku?” tanya Reito dan mulai pergi. Namun, Seiki
menarik tangannya dan memeluknya. Air mata membasahi wajahnya. “Jangan pergi,
tetaplah di sisiku!” ucapnya. Reito hanya tersenyum dan membalas pelukannya. “Aku
tidak akan pergi.” kata Reito."Terima kasih."
END~
END~