Selasa, 04 Desember 2012

Mean of Heart 2

    Sudah tiga tahun berlalu dan kini Reito akan lulus SMA dan akan berkuliah di luar kota. Sebelum Reito pergi, ia mengunjungi danau yang selalu ia kunjungi untuk yang terakhir kalinya. Akhirnya dia pun pergi meninggalkannya.


    Ketika Reito menatap gelang yang ia temukan di atas meja belajarnya saat di perjalanan. Terbayang wajah seorang lelaki yang berhubungan dengan gelangnya tersebut, namun wajahnya terkabur dari ingatannya. Kepala Reito terlalu sakit untuk mencoba mengingatnya. Akhirnya Reito pun sampai di tempat tujuannya dan memulai sekolahnya.

    Reito melalui hari-harinya dengan bersekolah di sana. Reito berjalan-jalan sambil melamun di lapangan dekat sekolahnya. Tiba-tiba, bola basket menghantam kepalanya. Kepala Reito terasa sangat sakit. Reito teringat hari-hari bersama Ryuki yang selalu menemaninya dan membuatnya merasa nyaman. Namun, sekarang Ryuki sudah menghilang. Yang terbesit di pikirannya sekarang adalah dimana keberadaan Ryuki.

    Keesokan harinya, Reito yang sedang menyiapkan buku catatannya, tanpa sengaja mendengar ucapan temannya bahwa di sekolahnya akan ada murid dan guru baru. “Eh, katanya kita ada guru dan murid baru loh!”seru teman perempuan sekelas Reito. “Iya. Kudengar murid baru itu bernama Ryu Seiki kelas 10-01 dan guru baru itu bernama Ryu Akise mengajar kimia kelas kita.”seru yang lainnya. “Hey, bagaimana guru baru kita itu?” tanya teman perempuan yang berada di sebelah Reito. “Kudengar guru kita itu masih muda dan tampan dan katanya sih dia sangat ramah.”
“Wah, aku ingin melihat seperti apa rupanya! Bagaimana dengan rupa murid baru itu?”
“Umm, entahlah. Tapi, katanya dia memiliki mata yang buatan di sebelah kiri dan dia juga sangat pandai.”

    Lalu, guru yang menjadi buah bibir murid-murid perempuan di kelasnya tiba di kelasnya. “Selamat pagi, semua. Saya Ryu Akise 27 tahun. Saya guru baru di sini. Mohon bantuannya.” kenal Akise. Setelah itu, pelajaran pun dimulai hingga istirahat telah tiba.

    Seperti biasanya pada jam istirahat, Reito pergi ke perpustakaan untuk meminjam dan membaca beberapa buku. Reito akan mengambil buku aritmatika untuk ia pelajari, namun ada seorang siswa yang akan mengambilnya juga. “Kamu mau mengambilnya ju..” suara Reito terputus ketika ia melihat siswa tersebut. Siswa itu berkacamata dan poninya menutupi mata kirinya. “Umm, kau murid baru itu?” tanya Reito. “Iya. Boleh aku ambil bukunya?” tanyanya. “Boleh.” jawab Reito. Siswa itu pun mengambil buku tersebut dan pergi bersama temannya.

    Reito terpaku di depan rak buku. Menatap gelang yang selalu ia pakai. Ia merenung, apakah Ryuki telah kembali. Reito menggelengkan kepalanya. Dan mengambil buku yang lain, lalu kembali ke kelasnya.

    Pelajaran kembali dimulai hingga usai dan bel tanda pulang sekolah telah berbunyi.Sebelum Reito pulang ke rumahnya, ia duduk di tepi danau yang tempatnya tak jauh dari sekolahnya. Ia menatap langit yang cerah itu. Direnungkannya kejadian yang menimpanya ketika di perpustakaan tadi. Apakah Ryuki kembali? Kata-kata itu kembali terngiang di kepalanya.

   Tak lama kemudian, jauh di sebelahnya, seorang laki-laki duduk menatap danau tersebut. Reito menghampirinya. “Hay, boleh aku duduk di sampingmu?” tanya Reito. “Tentu.” jawabnya dan menoleh ke arah Reito. Reito terkejut, ternyata laki-laki itu siswa baru tersebut. “Kau yang tadi itu kan. Mengapa setiap kau melihatku kau selalu kelihatan terkejut? Apakah ada yang salah dengan diriku?” tanyanya. “Tidak. Kau hanya.. mirip dengan teman lamaku, itu saja.” jawab Reito sembari duduk di sebelahnya.

    Siswa itu diam menatap pemandangan yang ada di hadapannya. “Ah iya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Sekio Reito dari kelas 11-03. Dan kau?” tanya Reito. “Aku Ryu Seiki, kelas 10-01.”jawabnya. “Kelihatannya kau ada masalah. Ada apa?” tanya Reito. “Tidak ada.”jawabnya. “Ayolah, ceritakan saja! Anggap saja kita sudah lama kenal.” bujuk Reito. “Aku hanya bingung soal perasaan. Itu saja.”

   Reito menatap mata kanan Seiki. Matanya terlihat kosong. “Memang apa saja yang bisa kau rasakan?” tanya Reito. “Tidak ada, semuanya terasa hambar. Dan orang-orang yang mengenalku selalu saja menyebutku tak memiliki rasa, kecuali Akito, teman baruku dan ia memiliki persamaan denganku. Apakah kau juga akan berpikiran seperti itu padaku?” tanyanya. “Tidak, karena sebenarnya kamu memiliki hal yang lebih baik. Hanya saja kau tidak mengetahuinya.”jawab Reito sembari tersenyum pada Seiki. Sementara Seiki hanya menatapnya dengan tatapannya yang kosong. "Apakah kau mengingatku, Ryuki-chan?" tanya Reito tiba-tiba. "Apa?" Ryuki terlihat terkejut. "Tidak." kata Reito, tanpa sadar ia menunjukan ekspresi kecewanya.

    Reito mengambil sebungkus roti dari tasnya dan memotongnya sebagian. “Terimalah!” Seiki mengambil roti pemberian Reito dan memakannya sedikit. Reito melemparkan sedikit rotinya ke permukaan air danau dan ikan-ikan yang ada di dalamnya memakannya. Seiki sepertinya tertarik ingin mencobanya. Ia pun mencobanya dan alhasil remah rotinya dimakan oleh seekor bebek yang lucu. Seiki tertawa kecil. Reito terpaku. Sudah lama ia tak mendengar tawa yang ia rindukan itu. Setitik air mata membasahi matanya. “Ada apa?” tanya Seiki. “Tidak.” jawab Reito. Seiki menatap gelang yang Reito pakai. “Gelang yang indah.” ucapnya. “Ini gelang pemberian ibuku sewaktu aku masih kecil dan juga peninggalan kawan lamaku. Ini untukmu saja.” Reito melepaskan gelang tersebut dan memakaikannya ke pergelangan tangan Seiki. “Terima kasih. Gelang ini terlihat berharga bagimu, akan aku jaga.” katanya.

    Keesokan harinya ketika pulang sekolah, Reito hendak pergi ke perpustakaan terlebih dahulu untuk mengembalikan buku yang dipinjamnya, lalu pergi menuju danau. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat Seiki melompat ke danau. “Ryu-kun!!” teriaknya dengan panik dan segera menyelamatkan Seiki yang setengah tenggelam. Reito berhasil menyelamatkan Seiki. “Akhirnya aku mendapatkannya.” ucapnya sembari tersenyum kemudian ia tak sadarkan diri. Dengan mata berkaca-kaca, Reito segera membawa Seiki ke rumahnya yang tak jauh dari sana dan memberikan pertolongan pertama. Reito menatap tangan Seiki yang menggenggam gelangnya. Matanya kembali meneteskan air mata.

    Tak lama kemudian, Seiki terbangun. “Aku dimana?” tanyanya. “Kamu ada di rumahku. Kamu tidak apa-apa kan?” Pipi Seiki memerah. “Mengapa kamu menangis?” Reito memeluk Seiki dengan erat. “Tidak apa-apa.” Seiki terdiam. Reito melepaskan pelukannya. “Aku antar kau pulang. Dimana rumahmu?” tanya Reito. “Dengan keadaan seperti ini?” kata Seiki. “Ah iya, aku akan memberimu pakaian. Tunggu sebentar.” Reito pergi menuju kamarnya, lalu mengganti pakaiannya dan mengambil pakaian untuk Seiki. “Ini, pakailah!”

    Seiki pun mengganti pakaiannya. “Rumahku ada di depan jembatan dekat sekolah.” ucapnya. “Baiklah. Ayo naik ke sepedaku.” ajak Reito yang sudah menaiki sepedanya. Seiki pun menaikinya di belakang. “Pegang yang erat, agar kau tak jatuh.” Seiki memegang erat baju Reito. Akhirnya, mereka pun sampai di rumah Seiki. Seiki tak mengucapkan sepatah kata pun. Sementara Reito kembali ke rumahnya.

   Setiap pulang sekolah, Reito dan Seiki selalu bersama di tepi danau. Tertawa bersama. Seiki yang sebelumnya dingin dan kaku menjadi ceria bersama dengan Reito.

  Keesokan harinya ketika pulang sekolah, Reito yang sedang melamun, hendak menyebrang jalan. Tiba-tiba sebuah mobil melaju dan hamper menabrak Reito, namun Seiki mendorong Reito, sehingga Seikilah yang tertabrak. Dengan mata berkaca-kaca, Reito menghampiri Seiki yang sudah penuh dengan darah. Seiki membisikkan sesuatu ke telinga Reito dan tak sadarkan diri. Akito juga menghampirinya. Lalu, tubuh Seiki segera dilarikan ke rumah sakit didampingi Reito, Akito, dan Professor Akise, keluarganya.

    “Kalian teman dekat Seiki?” tanya Professor Seiki. “Iya.” jawab Reito dan Akito serempak. “Sebenarnya, Seiki itu aku temukan di sebuah jurang. Jadi, dia bukanlah keluargaku.”ucap Professor Seiki yang tertunduk.  Dalam hati Reito, ia terkejut. Di dalam pikirannya, ia mulai berpikir kalau Seiki adalah Ryuki. Sementara Akito mencoba menenangkan Professor Akise. Dokter keluar dari ruang pemeriksaan Seiki, katanya Seiki mengalami koma. Mereka bertiga terkejut mendengar hal itu. Kembali Reito mengingat apa yang terakhir diucapkan Seiki, yaitu “Terima kasih.”

    Setelah kejadian itu, Reito pergi ke danau. Hujan pun turun dengan derasnya. Danau itu menjadi kelabu. Air mata Reito mengalir deras, bercampur bersama air hujan yang menimpa wajahnya.

    Hari-hari selama Seiki koma, Reito selalu menjenguknya ketika pulang sekolah dan memberikan bunga yang sama setiap harinya. Suatu ketika, ia tercengang ketika Seiki masih menggenggam gelang pemberiannya. Digenggamnya tangan Seiki dan dilepaskannya kembali. Tiba-tiba, jari Seiki bergerak sedikit. Reito pun segera memanggil dokter, lalu Professor Akise melalui ponselnya. Dokter memeriksa keadaan. Sementara Professor Akise dan Reito menunggu di ruang tunggu. Setelah dokter keluar dari ruangan itu, ia mengatakan bahwa Seiki mengalami sedikit perkembangan. Professor Seiki dan Reito senang mendengar hal itu. Akito yang baru datang menjenguk Seiki turut merasa senang.

"Hey! Kau terlihat perhatian sekali pada Seiki." kata Akise. "Dia mengingatkanku pada teman masa laluku yang sempat aku lupakan." Reito melihat mata Akito yang berbeda warna satu sama lain. "Ngomong-ngomong, ada apa dengan matamu?" tanya Reito. "Dari lahir mataku sudah seperti ini." jawab Akito. Tak lama kemudian Akito pun pergi pulang.

    Beberapa minggu kemudian, Seiki pun tersadar. Dengan perasaan senang Reito mengunjungi Seiki. Ketika sampai di sana, ia kembali melihat tatapan kosong Seiki. Professor Akise kelihatannya sudah mengatakan yang sebenarnya kepada Seiki dan Seiki menatapnya tajam dari kejauhan. Reito hanya terdiam, lalu pulang ke rumahnya.

    Keesokkan harinya di danau, Reito melihat Seiki yang berada di tepi danau. “Hey, apa kabar?” sapa Reito. “Baik.” jawabnya. “Kau tidak suka dengan kehadiranku?” tanya Reito dan mulai pergi. Namun, Seiki menarik tangannya dan memeluknya. Air mata membasahi wajahnya. “Jangan pergi, tetaplah di sisiku!” ucapnya. Reito hanya tersenyum dan membalas pelukannya. “Aku tidak akan pergi.” kata Reito."Terima kasih."

END~