Jumat, 08 Februari 2013

I Hope We Always Together Part V

Sena P.O.V

Perasaanku pada Dion yang sudah lama kupendam ingin sekali aku ungkapkan padanya. Tapi, akankah ia menerimanya? Tapi apakah perasaan ini takkan pernah tersampaikan? Aku bingung. Ah, suatu saat ada waktunya aku mengatakannya.

Seperti biasanya, aku mengajak Dion bermain layangan. Tapi, ia terlihat murung. "Kamu murung kenapa?" tanyaku. "Ah, aku gak apa-apa kok!" jawabnya. "Gak usah bohong, Di. Kalau ada masalah, cerita aja ke aku. Aku kan temen kamu." Dion hanya menunduk. "Ah, bosan, nih! Main di sana, yuk!" ajakku sambil menunjuk air mancur yang berada di tengah lapangan. Aku menarik tangannya.

Kami berdua pun bersandar di pinggir air mancur. Terlintas dipikiranku untuk menjaili Dion yang manis ini. Kucipratkan air yang ada di air mancur ini. "Apaan sih, Sen?!" bentaknya. "Habisnya kamu ngantuk mulu. Ya, aku bangunin kamu aja." jelasku. "Ngantuk darimana?!" Dion membalas menciprat ke arahku. "Habis kamu nunduk mulu." kataku sambil mencipratnya balik. Dion membalasku. Dan akhirnya aku dan dia main ciprat-cipratan.

"Udah, ah! Nanti basah!" bentaknya. "Biarin!" Aku menjulurkan lidah. Dan akhirnya kami pun berhenti karena kami sudah basah kuyup. "Ntar kalau aku masuk angin gimana? Kamu mau tanggung jawab?!" tanyanya dengan nada marah. "Kamu tanya kok kayak cwe minta pertanggungjawaban ke cwo-nya? Haha!" candaku. "Aih, aku serius, nih!" Dion menghentakkan kakinya. Aku menghela nafas. "Ya udah, aku antar kamu pulang aja. Gak usah ngambek, jelek tahu!" Aku mencubit pipinya.

Aku mengantar pulang Dion, tentu saja dengan sepedaku ini. Setelah sampai di rumahnya, ia segera pergi mandi. Sementara aku akan pergi pulang. "Eh, kamu mau kemana?" tanyanya. "Ya mau pulang lah." jawabku. "Gak ikut mandi aja?" tawarnya. "Hah?" Aku terkejut. "Maksud kamu?" tanyaku memastikan. "Kamu mandi di rumahku aja. Kan gara-gara aku juga kamu jadi basah kuyup." jelasnya. "Umm, gak usah. Aku mandi di rumahku aja." tolakku. "Ayolah, kamu kan udah nganter aku pulang!" rajuknya. Ia terlihat sangat imut. "Ya udah deh, terserah kamu aja."

Aku menunggu Dion selesai mandi. Setelah Dion selesai, aku terkejut. Dion hanya memakai handuk. "Kok muka kamu merah begitu, Sen?" tanyanya. "Gak apa-apa." jawabku canggung. "Ya sudah. Kamar mandinya di sebelah sana." katanya. Aku pun dengan cepat masuk ke kamar mandinya. Kamar mandinya agak besar untuk satu orang. Aku membuka keran shower yang ada di kamar mandi itu. Dan kupandang cermin di depanku. Wajahku memerah.

Setelah aku selesai, aku menghampiri Dion yang sedang minum teh yang mungkin disediakan oleh maidnya di ruang tamunya. "Eh, trus aku pake baju apaan?" tanyaku. Dion yang yang tadi menyeruput tehnya, tersedak. "Uhuk..uhuk.. kamu ngagetin aku aja. Nih, bajunya!" Dion melemparkan kaus hitam dan celana selutut ke arahku. "Baju siapa, nih?" tanyaku. "Bajunya Rudy." jawabnya singkat. "Rudy siapa?" tanyaku lagi. "Orang yang selalu kamu sebut maid" jawabnya sembari menyeruput tehnya. "Oh, maidmu."

Aku langsung memakai baju itu tanpa berpindah ke ruangan lain. "Heh, kamu gak malu apa?" tanyanya terkejut. "Nggak. Lagian di sini nggak ada cwe, kan? Ngapain malu? Apa jangan-jangan kamu yang malu ngliat aku? Haha." candaku. "Ih, kamu ini!" ucapnya sembari mencubit lenganku. Aku terkikik geli melihat tingkahnya.

Setelah aku selesai berpakaian, aku mengambil pakaian basahku dan bersegera pulang. Tiba-tiba, ketika kusampai di depan pintu rumah Dion, hujan turun dengan derasnya. "Wah, hujan!" seruku. "Nginep aja di rumahku." katanya. Aku tersentak. "Eh, beneran?" tanyaku. "Iya." jawabnya. Dalam hati tentu aku serasa bagai di alam mimpiku sendiri.

=========

Dion P.O.V

Seperti biasanya, aku selalu di ajak bermain layangan oleh Sena. Yah, akibat perlakuan teman sekelasku, aku jadi malas. Tapi, lagi-lagi Sena mengembalikkan mood-ku. Tentu saja dengan kejailannya. Dan akibatnya badanku jadi basah kuyup. Aku dibuat cemberut lagi oleh candanya, tapi itu tidak seperti rasa jengkelku pada teman sekelasku itu. Ini mungkin rasa jengkel yang membuat orang merasa lebih baik.

Dan dia pun mengantarku pulang. Kutawari dia untuk mandi di rumahku. Sempat ia menolaknya, tapi pada akhirnya dia pun menerimanya karena aku bersikeras.Entah mengapa aku begitu bersikeras, mungkin karena aku ingin membalas kebaikannya. Lalu, aku mandi. Dan setelah selesai aku menghampirinya hanya dengan balutan handuk di bagian bawah tubuhku. Wajahnya memerah. Aku sedikit khawatir apakah wajahnya memerah karena ia menunggu terlalu lama dan kedinginan atau entahlah karena apa.

Dan giliranku menunggunya selesai mandi. Sambil menunggu aku menyeruput teh yang disediakan Rudy. Dan aku tersedak karena Sena mengagetkanku. Aku memberinya pakaian Rudy karena pakaianku mungkin akan kekecilan jika dipakai olehnya.

Dia memakai pakaiannya di depanku. Tentu saja aku terkejut. Tapi, lagi-lagi aku hanya tertegun dengan jawabannya. Setelah ia selesai dan membenahi pakaiannya yang basah, hujan pun turun dengan derasnya. Jadi kutawari saja teman lamaku ini untuk menginap di rumahku. Anehnya, ia berbinar seperti ditawari untuk tinggal di surga.

=========
bersambung~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar