Sena P.O.V
Perasaanku pada Dion yang sudah lama kupendam ingin sekali aku ungkapkan padanya. Tapi, akankah ia menerimanya? Tapi apakah perasaan ini takkan pernah tersampaikan? Aku bingung. Ah, suatu saat ada waktunya aku mengatakannya.
Seperti biasanya, aku mengajak Dion bermain layangan. Tapi, ia terlihat murung. "Kamu murung kenapa?" tanyaku. "Ah, aku gak apa-apa kok!" jawabnya. "Gak usah bohong, Di. Kalau ada masalah, cerita aja ke aku. Aku kan temen kamu." Dion hanya menunduk. "Ah, bosan, nih! Main di sana, yuk!" ajakku sambil menunjuk air mancur yang berada di tengah lapangan. Aku menarik tangannya.
Kami berdua pun bersandar di pinggir air mancur. Terlintas dipikiranku untuk menjaili Dion yang manis ini. Kucipratkan air yang ada di air mancur ini. "Apaan sih, Sen?!" bentaknya. "Habisnya kamu ngantuk mulu. Ya, aku bangunin kamu aja." jelasku. "Ngantuk darimana?!" Dion membalas menciprat ke arahku. "Habis kamu nunduk mulu." kataku sambil mencipratnya balik. Dion membalasku. Dan akhirnya aku dan dia main ciprat-cipratan.
"Udah, ah! Nanti basah!" bentaknya. "Biarin!" Aku menjulurkan lidah. Dan akhirnya kami pun berhenti karena kami sudah basah kuyup. "Ntar kalau aku masuk angin gimana? Kamu mau tanggung jawab?!" tanyanya dengan nada marah. "Kamu tanya kok kayak cwe minta pertanggungjawaban ke cwo-nya? Haha!" candaku. "Aih, aku serius, nih!" Dion menghentakkan kakinya. Aku menghela nafas. "Ya udah, aku antar kamu pulang aja. Gak usah ngambek, jelek tahu!" Aku mencubit pipinya.
Aku mengantar pulang Dion, tentu saja dengan sepedaku ini. Setelah sampai di rumahnya, ia segera pergi mandi. Sementara aku akan pergi pulang. "Eh, kamu mau kemana?" tanyanya. "Ya mau pulang lah." jawabku. "Gak ikut mandi aja?" tawarnya. "Hah?" Aku terkejut. "Maksud kamu?" tanyaku memastikan. "Kamu mandi di rumahku aja. Kan gara-gara aku juga kamu jadi basah kuyup." jelasnya. "Umm, gak usah. Aku mandi di rumahku aja." tolakku. "Ayolah, kamu kan udah nganter aku pulang!" rajuknya. Ia terlihat sangat imut. "Ya udah deh, terserah kamu aja."
Aku menunggu Dion selesai mandi. Setelah Dion selesai, aku terkejut. Dion hanya memakai handuk. "Kok muka kamu merah begitu, Sen?" tanyanya. "Gak apa-apa." jawabku canggung. "Ya sudah. Kamar mandinya di sebelah sana." katanya. Aku pun dengan cepat masuk ke kamar mandinya. Kamar mandinya agak besar untuk satu orang. Aku membuka keran shower yang ada di kamar mandi itu. Dan kupandang cermin di depanku. Wajahku memerah.
Setelah aku selesai, aku menghampiri Dion yang sedang minum teh yang mungkin disediakan oleh maidnya di ruang tamunya. "Eh, trus aku pake baju apaan?" tanyaku. Dion yang yang tadi menyeruput tehnya, tersedak. "Uhuk..uhuk.. kamu ngagetin aku aja. Nih, bajunya!" Dion melemparkan kaus hitam dan celana selutut ke arahku. "Baju siapa, nih?" tanyaku. "Bajunya Rudy." jawabnya singkat. "Rudy siapa?" tanyaku lagi. "Orang yang selalu kamu sebut maid" jawabnya sembari menyeruput tehnya. "Oh, maidmu."
Aku langsung memakai baju itu tanpa berpindah ke ruangan lain. "Heh, kamu gak malu apa?" tanyanya terkejut. "Nggak. Lagian di sini nggak ada cwe, kan? Ngapain malu? Apa jangan-jangan kamu yang malu ngliat aku? Haha." candaku. "Ih, kamu ini!" ucapnya sembari mencubit lenganku. Aku terkikik geli melihat tingkahnya.
Setelah aku selesai berpakaian, aku mengambil pakaian basahku dan bersegera pulang. Tiba-tiba, ketika kusampai di depan pintu rumah Dion, hujan turun dengan derasnya. "Wah, hujan!" seruku. "Nginep aja di rumahku." katanya. Aku tersentak. "Eh, beneran?" tanyaku. "Iya." jawabnya. Dalam hati tentu aku serasa bagai di alam mimpiku sendiri.
=========
Dion P.O.V
Seperti biasanya, aku selalu di ajak bermain layangan oleh Sena. Yah, akibat perlakuan teman sekelasku, aku jadi malas. Tapi, lagi-lagi Sena mengembalikkan mood-ku. Tentu saja dengan kejailannya. Dan akibatnya badanku jadi basah kuyup. Aku dibuat cemberut lagi oleh candanya, tapi itu tidak seperti rasa jengkelku pada teman sekelasku itu. Ini mungkin rasa jengkel yang membuat orang merasa lebih baik.
Dan dia pun mengantarku pulang. Kutawari dia untuk mandi di rumahku. Sempat ia menolaknya, tapi pada akhirnya dia pun menerimanya karena aku bersikeras.Entah mengapa aku begitu bersikeras, mungkin karena aku ingin membalas kebaikannya. Lalu, aku mandi. Dan setelah selesai aku menghampirinya hanya dengan balutan handuk di bagian bawah tubuhku. Wajahnya memerah. Aku sedikit khawatir apakah wajahnya memerah karena ia menunggu terlalu lama dan kedinginan atau entahlah karena apa.
Dan giliranku menunggunya selesai mandi. Sambil menunggu aku menyeruput teh yang disediakan Rudy. Dan aku tersedak karena Sena mengagetkanku. Aku memberinya pakaian Rudy karena pakaianku mungkin akan kekecilan jika dipakai olehnya.
Dia memakai pakaiannya di depanku. Tentu saja aku terkejut. Tapi, lagi-lagi aku hanya tertegun dengan jawabannya. Setelah ia selesai dan membenahi pakaiannya yang basah, hujan pun turun dengan derasnya. Jadi kutawari saja teman lamaku ini untuk menginap di rumahku. Anehnya, ia berbinar seperti ditawari untuk tinggal di surga.
=========
bersambung~
Welcome to my blog and join my story! ^o^)/~ I hope you enjoy and like it (\^.^)/ Comment your opinions about my post! Thanks (\^.^)/~
Jumat, 08 Februari 2013
Jumat, 01 Februari 2013
I Hope We Always Together Part IV
Sena P.O.V
Kupandangi Dion yang sedang belajar di kelas sebrang dari jendela kelasku. “Hoy!” kejut Geo, temanku yang berada di bangku sebelahku. “Apaan sih, bro?” ketusku. “Ngliatin apa, bro?” tanyanya. “Ngliatin pemandangan sekolah ini.” jawabku. Geo melihatku dengan pandangan tidak yakin. Aku berusaha membuat wajahku agar tampak meyakinkan dan akhirnya berhasil. “Oh. Ya sudah. Tuh, sebentar lagi pak guru udah mau masuk kelas, bro.” katanya. “Thanks, bro.” balasku. Kegiatan sekolahku pun dimulai sampai selesai dan pulang sekolah.
Setelah sampai, Dion memasang muka cemberut. Muka cemberutnya itu membuatku terpesona padanya. “Udah nggak usah vemberut. Mukamu malah jelek kayak monyet tahu!” ledekku. “Huh, dasar! Sekarang mau main apa?” tanyanya. “Layangan!” jawabku dengan semangat. “Anginnya bagus, nih!” tambahku. “Trus, dimana layangannya?” tanyanya. “Tunggu sebentar. Aku beli di sana dulu.” Aku pun berlari menuju penjual layangan yang tak jauh dari tempat Dion menungguku. Aku membeli layangannya dan kembali ke tempat Dion menungguku.
Kupandangi Dion yang sedang belajar di kelas sebrang dari jendela kelasku. “Hoy!” kejut Geo, temanku yang berada di bangku sebelahku. “Apaan sih, bro?” ketusku. “Ngliatin apa, bro?” tanyanya. “Ngliatin pemandangan sekolah ini.” jawabku. Geo melihatku dengan pandangan tidak yakin. Aku berusaha membuat wajahku agar tampak meyakinkan dan akhirnya berhasil. “Oh. Ya sudah. Tuh, sebentar lagi pak guru udah mau masuk kelas, bro.” katanya. “Thanks, bro.” balasku. Kegiatan sekolahku pun dimulai sampai selesai dan pulang sekolah.
Ketika pulang sekolah aku akan ngajak Dion untuk bermain
layangan seperti dulu di lapangan yang tak jauh dari rumahnya dan rumahku hanya
bersepeda. Jadi, aku pulang, mengganti pakaianku, makan siang, dan bersepeda
menuju rumah Dion.
Ketika sampai di rumah Dion, aku mengetuk pintu rumahnya.
Pintu rumahnya terbuka, namun yang muncul adalah seorang lelaki, tapi bukan
ayah Dion. “Selamat siang. Dionnya ada?” tanyaku. “Selamat siang. Kamu siapanya
tuan muda dan ada urusan apa?” tanya lelaki itu. “Mungkin ini maidnya Dion.” pikirku.
“Aku temannya dan aku mau ngajak Dion main di lapangan sana.” jawabku. “Ya
sudah, masuk dulu. Nanti saya panggilkan.” Lelaki itu mempersilahkanku masuk
dan pergi memanggil Dion.
Aku menunggu. Akhirnya Dion muncul. “Kamu mau ngajak aku
main apa?” tanyanya. “Udahlah nanti kamu tahu sendiri.” jawabku. “Oh, ya sudah.
Aku pergi bareng temnku.” pamitnya pada maidnya itu. “Iya. Hati-hati di jalan
ya, Tuan Muda!” ucap maidnya sembari mencubit pipinya. Dalam hati aku cemburu.
Dion cemberut, sementara maidnya tertawa kecil. “Panggil Dion saja, gak usah
Tuan Muda. Jangan cubit pipiku dong!” perintahnya. “Iya. Saya usahakan.” balas maid-nya.
Dion membonceng sepedaku. “Pegangan dong, Dion! Nanti jatuh
loh!” peringatku. “Nggak ah!” balasnya. Akhirnya aku percepat laju sepedaku
supaya Dion berpegangan erat padaku dan dan berhasil. Aku merasa senang. “Jangan
cepat-cepat, Sen!” teriaknya. “Sebentar lagi juga sampai kok. Kamu pegangan
yang erat aja!” kataku.
Setelah sampai, Dion memasang muka cemberut. Muka cemberutnya itu membuatku terpesona padanya. “Udah nggak usah vemberut. Mukamu malah jelek kayak monyet tahu!” ledekku. “Huh, dasar! Sekarang mau main apa?” tanyanya. “Layangan!” jawabku dengan semangat. “Anginnya bagus, nih!” tambahku. “Trus, dimana layangannya?” tanyanya. “Tunggu sebentar. Aku beli di sana dulu.” Aku pun berlari menuju penjual layangan yang tak jauh dari tempat Dion menungguku. Aku membeli layangannya dan kembali ke tempat Dion menungguku.
“Nih, layangannya! Sesuai dengan warna kesukaan kita, merah
dan kuning. Yuk, terbangin! Nanti gantian, dimulai dari aku dulu ya!” seruku. “Oke!”
serunya juga. Dion memegang layangannya dan menerbangkannya. “Wah, anginnya emang
bagus, nih! Layangannya kelihatan bagus! ” serunya. “Siapa dulu yang pilih!
Haha!” Aku senang bisa kembali bermain-main bersama Dion.
Selang beberapa lama, akhirnya gantian Dion yang memainkan
layangannya. Kemampuanhya sama seperti dulu.
Kami pun bermain hingga sore. “Nih, layangannya, Sen!” Dion memberikan
layangannya padaku. “Untuk kamu aja. ” balasku. “Beneran? Wah, makasih banyak,
Sen!” Dion kelihatan seneng banget. “Ya udah. Yuk, pulang! Aku anterin.
Pegangan yang erat kayak tadi lho!” perintahku. Wajahnya cemberut seketika. “Udah
nggak usah pake cemberut segala. Ayo naik!” kataku sambil mencubit pipinya.
==========
Dion P.O.V
Selang beberapa lama setelah pulang sekolah, Sena ke rumahku
dan mengajakku bermain. Entah apa yang akan kita berdua mainkan. Dan kebiasaan
yang tidak kusukai dari Rudy, pelayanku, yaitu mencubit pipiku dan memanggilku “Tuan
Muda” terlihat dihadapan Sena. Tentu saja aku malu, tapi Sena tak terlihat
seperti menahan tawa, syukurlah.
Sena mengajakku ke lapangan dengan sepedanya. Dia menyuruhku
untuk berpegangan dengan erat. Tentu saja aku tidak mau. Dan akhirnya Sena
ngebut. Karena aku takut jadi aku berpegangan dengan erat. Akhirnya sampai
juga. Aku mulai jengkel dengan Sena.
Tapi, lagi-lagi Sena dapat membuatku senang setelah ia
membuatku jengkel. Aku senang dapat memainkan layangn lagi. Aku berhenti
memainkan layangan bukan karena bosan, tapi karena aku tak punya kawan seperti
Sena. Aku senang karena Sena kembali bersamaku lagi meski masih ada sisi yang
membuatku jengkel darinya.
Dia membeli layangan dengan warna kesukaanku dan dia, merah
dan kuning. Jika layangan itu miliku, pasti layangan itu akan menjadi layangan
kesukaanku.
Hari sudah sore. Seperti permohonan yang dikabulkan, Sena
memberikan layangan itu padaku. Sena mengantarku pulang dengan sepedanya dan
lagi-lagi aku harus berpegangan dengan erat karena dia ngebut lagi. Wajahku
yang tadinya cerah, jadi kusut gara-gara ulahnya juga.
==========
bersambung~
Langganan:
Komentar (Atom)