Sabtu, 09 Maret 2013

I Hope We Always Together Part VI

Sena tertidur di kamar tamu karena kelelahan. Dion mengintip dari balik pintu untuk memastikan. Tiba-tiba, Grace, sepupu Dion, datang dan mengagetkan Dion. "Hai, Ionny!" seru Grace. "Duh, jangan ngagetin gitu dong!" balas Dion. "Ngapain ngintip kamar tamu? Coba kulihat!" ucap Grace sembari mendorong Dion dari depan pintu kamar tamu. "Ah, siapa itu, Ionny?" tanya Grace sembari menyeringai. "Cuma teman." jawabnya singkat. "Ah, cuma teman?! Lalu, mengapa kau mengintipnya?" tanya Grace curiga. "Cuma memastikan saja." jawabnya. "Memastikan bagaimana? Dia kelihatan baik-baik saja, kok! Ada sesuatu, yah?" Grace kembali menyeringai. "Ish, pikiranmu ini aneh-aneh aja!" pekik Dion. "Terserahlah." ucap Grace sambil berlalu.

Pukul 6 sore Sena terbangun. Dilihatnya jam yang berada di dinding kamar tamu Dion. Ia terkejut karena hari sudah gelap. Dion datang dan membawa segelas susu coklat untuk Sena. "Eits, nggak biasanya kamu membuatkan minuman untuk tamu!" Grace menyeringai lagi. Dion hanya cemberut menanggapi sepupunya itu.

"Sen, ini susu coklat hangat buat kamu. Diminum dulu!"
"Makasih." ucap Sena sambil meneguk susu coklat  yang masih panas tersebut. "Pueh!"
"Masih panas, Sen. Pelan-pelan saja."
"Tapi, ini udah gelap. Aku harus buru-buru pulang."
"Kenapa nggak bermalam di sini saja? Kan, besok libur!" ajak Dion.
"Tapi, aku udah ngrepotin kamu."
"Ah, nggak apa-apa! Udah, habisin dulu minumnya!"
Diam-diam Grace mengintip dari balik pintu kamar tamu tersebut dan tertawa kecil.

"Kamu ngapain, Grace?" tanya Dion. "Dia siapa, Di?" tanya Sena. "Hehe, aku Grace, sepupu Dion, salam kenal."
"Salam kenal. Aku Sena." balas Sena. "Umm, aku cuma mau memberitahu aja kalau makan malam sudah siap. Yuk, ke ruang makan sekarang!" ajak Grace.

Sena, Grace, Rudy, dan Dion pun berkumpul di ruang makan dan makan bersama. Beberapa menit berlalu, Dion yang sudah selesai makan beranjak dari tempat duduknya. Rudy ikut beranjak dan mencolek sambal yang menempel di bibir Dion. Sena menggerutu. "Kenapa pembantu di sini laki-laki, sih?" gumamnya. Grace yang tak sengaja mendengar gumaman Sena tertawa kecil. "Cemburu, nih?" godanya. "Eh, nggak! nggak! Apaan sih?!" celetuk Sena. Grace menyeringai dan beranjak.

Sena duduk di kamar tamu Dion. Grace menghampirinya. "Mikirin kejadian tadi?" tanyanya. "Maksud kamu?" tanya balik Sena. "Well, aku hanya menebak saja. Mau main game? Dion suka sekali main game ini, nanti aku ajak Dion sekalian saja."
"Ah, tidak usah! Mungkin dia sibuk atau apalah, jangan diganggu!"
"Umm, ngomong-ngomong, kamu yang selalu mengajak Dion bermain keluar?"
"Ya."
"Berkat kamu Dion mulai sedikit demi sedikit kembali ceria."
"Memangnya dia kenapa?"
"Yah, masalah kurangnya kasih sayang membuatnya lebih memilih sendiri."
"Oh, begitukah? Ngomong-ngomong, kamu ini kenapa daritadi kelihatan mencurigai aku?"
"Mencurigai bagaimana?"
"Mana kutahu! Kamu ini!"
Grace terkejut dan tertawa. Sementara Sena terheran-heran sendiri.

"Hai, lagi ngomongin apa?" tanya Dion yang datang.
"Nggak kok. Aku pergi dulu, ya." jawab Grace.

"Apa kalian selalu seperti itu?" tanya Sena.
"Apanya?" tanya Dion balik.
"Kau dan Rudy melakukan hal seperti tadi?"
"Kau ini mengada-ada saja, Sen. Rudy itu memang seperti kakakku sendiri."
Sena terdiam.
"Main game, yuk!" ajak Dion.

Mereka pun bermain game sampai tertidur.

============
bersambung~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar