Kupandangi Dion yang sedang belajar di kelas sebrang dari jendela kelasku. “Hoy!” kejut Geo, temanku yang berada di bangku sebelahku. “Apaan sih, bro?” ketusku. “Ngliatin apa, bro?” tanyanya. “Ngliatin pemandangan sekolah ini.” jawabku. Geo melihatku dengan pandangan tidak yakin. Aku berusaha membuat wajahku agar tampak meyakinkan dan akhirnya berhasil. “Oh. Ya sudah. Tuh, sebentar lagi pak guru udah mau masuk kelas, bro.” katanya. “Thanks, bro.” balasku. Kegiatan sekolahku pun dimulai sampai selesai dan pulang sekolah.
Ketika pulang sekolah aku akan ngajak Dion untuk bermain
layangan seperti dulu di lapangan yang tak jauh dari rumahnya dan rumahku hanya
bersepeda. Jadi, aku pulang, mengganti pakaianku, makan siang, dan bersepeda
menuju rumah Dion.
Ketika sampai di rumah Dion, aku mengetuk pintu rumahnya.
Pintu rumahnya terbuka, namun yang muncul adalah seorang lelaki, tapi bukan
ayah Dion. “Selamat siang. Dionnya ada?” tanyaku. “Selamat siang. Kamu siapanya
tuan muda dan ada urusan apa?” tanya lelaki itu. “Mungkin ini maidnya Dion.” pikirku.
“Aku temannya dan aku mau ngajak Dion main di lapangan sana.” jawabku. “Ya
sudah, masuk dulu. Nanti saya panggilkan.” Lelaki itu mempersilahkanku masuk
dan pergi memanggil Dion.
Aku menunggu. Akhirnya Dion muncul. “Kamu mau ngajak aku
main apa?” tanyanya. “Udahlah nanti kamu tahu sendiri.” jawabku. “Oh, ya sudah.
Aku pergi bareng temnku.” pamitnya pada maidnya itu. “Iya. Hati-hati di jalan
ya, Tuan Muda!” ucap maidnya sembari mencubit pipinya. Dalam hati aku cemburu.
Dion cemberut, sementara maidnya tertawa kecil. “Panggil Dion saja, gak usah
Tuan Muda. Jangan cubit pipiku dong!” perintahnya. “Iya. Saya usahakan.” balas maid-nya.
Dion membonceng sepedaku. “Pegangan dong, Dion! Nanti jatuh
loh!” peringatku. “Nggak ah!” balasnya. Akhirnya aku percepat laju sepedaku
supaya Dion berpegangan erat padaku dan dan berhasil. Aku merasa senang. “Jangan
cepat-cepat, Sen!” teriaknya. “Sebentar lagi juga sampai kok. Kamu pegangan
yang erat aja!” kataku.
Setelah sampai, Dion memasang muka cemberut. Muka cemberutnya itu membuatku terpesona padanya. “Udah nggak usah vemberut. Mukamu malah jelek kayak monyet tahu!” ledekku. “Huh, dasar! Sekarang mau main apa?” tanyanya. “Layangan!” jawabku dengan semangat. “Anginnya bagus, nih!” tambahku. “Trus, dimana layangannya?” tanyanya. “Tunggu sebentar. Aku beli di sana dulu.” Aku pun berlari menuju penjual layangan yang tak jauh dari tempat Dion menungguku. Aku membeli layangannya dan kembali ke tempat Dion menungguku.
“Nih, layangannya! Sesuai dengan warna kesukaan kita, merah
dan kuning. Yuk, terbangin! Nanti gantian, dimulai dari aku dulu ya!” seruku. “Oke!”
serunya juga. Dion memegang layangannya dan menerbangkannya. “Wah, anginnya emang
bagus, nih! Layangannya kelihatan bagus! ” serunya. “Siapa dulu yang pilih!
Haha!” Aku senang bisa kembali bermain-main bersama Dion.
Selang beberapa lama, akhirnya gantian Dion yang memainkan
layangannya. Kemampuanhya sama seperti dulu.
Kami pun bermain hingga sore. “Nih, layangannya, Sen!” Dion memberikan
layangannya padaku. “Untuk kamu aja. ” balasku. “Beneran? Wah, makasih banyak,
Sen!” Dion kelihatan seneng banget. “Ya udah. Yuk, pulang! Aku anterin.
Pegangan yang erat kayak tadi lho!” perintahku. Wajahnya cemberut seketika. “Udah
nggak usah pake cemberut segala. Ayo naik!” kataku sambil mencubit pipinya.
==========
Dion P.O.V
Selang beberapa lama setelah pulang sekolah, Sena ke rumahku
dan mengajakku bermain. Entah apa yang akan kita berdua mainkan. Dan kebiasaan
yang tidak kusukai dari Rudy, pelayanku, yaitu mencubit pipiku dan memanggilku “Tuan
Muda” terlihat dihadapan Sena. Tentu saja aku malu, tapi Sena tak terlihat
seperti menahan tawa, syukurlah.
Sena mengajakku ke lapangan dengan sepedanya. Dia menyuruhku
untuk berpegangan dengan erat. Tentu saja aku tidak mau. Dan akhirnya Sena
ngebut. Karena aku takut jadi aku berpegangan dengan erat. Akhirnya sampai
juga. Aku mulai jengkel dengan Sena.
Tapi, lagi-lagi Sena dapat membuatku senang setelah ia
membuatku jengkel. Aku senang dapat memainkan layangn lagi. Aku berhenti
memainkan layangan bukan karena bosan, tapi karena aku tak punya kawan seperti
Sena. Aku senang karena Sena kembali bersamaku lagi meski masih ada sisi yang
membuatku jengkel darinya.
Dia membeli layangan dengan warna kesukaanku dan dia, merah
dan kuning. Jika layangan itu miliku, pasti layangan itu akan menjadi layangan
kesukaanku.
Hari sudah sore. Seperti permohonan yang dikabulkan, Sena
memberikan layangan itu padaku. Sena mengantarku pulang dengan sepedanya dan
lagi-lagi aku harus berpegangan dengan erat karena dia ngebut lagi. Wajahku
yang tadinya cerah, jadi kusut gara-gara ulahnya juga.
==========
bersambung~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar