Senin, 26 November 2012

Mean of Heart

       Siang itu, Ryuki si bebek putih bersantai dengan berenang-renang di suatu danau, Ryuki melihat seorang lelaki bernama Reito yang murung. Memang hampir setiap hari Ryuki selalu melihat Reito di pinggir danau. Ryuki keluar dari kolam dan mendekati Reito. Reito menatap Ryuki dan mengelusnya. “Memang tak mudah menjalani hidup ini.”ucap Reito. “Wek! (memang!)” ucap Ryuki . “Kau ini bebek yang lucu.” Reito kembali mengelus Ryuki. Ryuki mengusap-usapkan tubuhnya dengan manja kepada Reito, sementara Reito hanya tersenyum melihat tingkah Ryuki. Ryuki merasa hangat berada di dekat Reito. Ingin rasanya Ryuki menjadi manusia karena ia ingin selalu berada di sisinya.

        Datang teman Reito, Kei, dan pacar Reito, Rena. Ryuki yang merupakan bebek yang pemalu beranjak dari tubuh Reito dan berenang menjauh. Namun demikian, Ryuki tetap memperhatikan Reito dari kejauhan. “Hei, Reito! Aku dan Rena seharian mencarimu, ternyata kau ada di sini!” teriak Kei sembari meninju lengannya. “Iya, kami seharian mencarimu, Reito-san!” tambah Rena yang kelelahan. “Maaf, semuanya.” ucap Reito. “Ya sudahlah kita pulang saja!” kata Rena. Reito merangkul Rena dan Rena menggandeng Kei di belakang Reito, hanya saja Reito tak menyadari hal itu. Melihat kejadian tersebut, Ryuki akhirnya membulatkan tekadnya untuk menjadi manusia, tapi bagaimana caranya?

       Ryuki berjalan-jalan sendirian di sekitar danau, di tempat itu ia hanya sendiri. Ryuki memang tak punya kawan dan keluarga. Ia hidup sebatang kara. "Bagaimana caranya aku jadi manusia? Aku benar-benar ingin menjadi manusia demi Reito-san." renung Ryuki. Sebuah kabut muncul di hadapan Ryuki. Kabut itu Asdera si Penguasa Danau, Asdera yang sangat membutuhkan mata untuk jiwa angsa kesayangannya yang juga merupakan pusat danau yang dikuasainya dan juga tidak memiliki mata sama sekali dan kebetulan ia mendengar permohonan Ryuki. “Apakah kau ingin menjadi manusia?” ucap kabut tersebut. “Si..siapa kau?” tanya Ryuki ketakutan. “Aku Asdera si Penguasa Danau, aku dapat mewujudkan keinginanmu itu. Tapi dengan satu syarat dan pantangan” ucap Asdera. “Apa itu? Mengapa kau ingin membantuku?”tanya Ryuki. “Aku membutuhkani mata kirimu untuk jiwa angsa kesayanganku sekaligus jiawa angsaku yang menjadi pusat keseimbangan danau-danau. Dan kau harus merelakan mata kirimu jika kau benar-benar mau menjadi manusia dan pantangannya ialah jika kau melepaskan kalung yang akan aku berikan kepadamu, maka kau akan berubah menjadi semula. Kau sanggup?” tanya Asdera. “Sanggup!” ucap Ryuki.

    Akhirnya Asdera mengambil mata kiri Ryuki, Ryuki sangat kesakitan, tapi demi Reito ia sanggup. “Pakailah kalung ini!” Asdera melemparkan sebuah kalung biru ke leher Ryuki. Ryuki pun berubah menjadi manusia yang tak memiliki mata kiri. Asdera pun menghilang.

        Sementara Ryuki yang masih kesakitan karena mata kirinya yang diambil Asdera, mengambil dedaunan dan menempelkannya ke mata kirinya. Ryuki masih tak tahu apa yang harus dilakukannya, jadi ia hanya duduk di bawah pohon yang tak jauh dari danau. Reito yang datang karena ingin menyendiri lagi, terkejut melihat Ryuki “Hey! Mengapa kau sendirian di sini? Kau juga tak berpakaian dan matamu... Kau pasti kedinginan, pakailah ini!” Reito melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Ryuki. “Aku Reito, siapa namamu? Dimana rumahmu?” tanya Reito. Ryuki hanya menggelengkan kepalanya. “Kau boleh menginap di apartemenku. Ayo!” Reito merangkul Ryuki dan membawanya ke apartemennya.

       Ketika sampai di apartemen Reito. Ryuki dengan malu-malu berkata “Terima kasih." tuturnya. “Sudahlah tak apa, sekarang pakailah baju ini dan ayo kita obati mata kirimu itu!” Reito memberikan bajunya kepada Ryuki. Ryuki yang baru menjadi manusia tidak tahu cara memakai baju. “Kau tak bisa memakainya? Kemarilah, aku pakaikan!” Reito memakaikan baju untuk Ryuki, sementara Ryuki tersipu malu. “Sekarang aku bersihkan dan mengobati matamu itu” Reito membuka daun yang Ryuki gunakan untuk menutupi matanya dan terkejut. “Ya ampun! Perbuatan siapa ini?” Ryuki menggelengkan kepalanya. Reito membersihkan dan memberi obat pada mata Ryuki sekaligus memberinya perban. “Sekarang selesai!” seru Reito. “Umm.. Reito-kun, apakah kau sendirian di sini?" tanya Ryuki. "Iya. Orang tuaku bekerja di luar kota, dan aku tidak punya saudara. Eh, sekarang sudah malam kau ingin tidur? Kalau kau ingin tidur, tidur saja di kamarku yang di sebelah sana, aku akan tidur di sini.” ucap Reito. Ryuki mengangguk.

        Malam itu Reito sudah tertidur sementara Ryuki belum bisa tidur, ia melihat sekeliling. Apartemen Reito sangat berantakan, jadi untuk membalas budi Ryuki membersihkan rumah Reito. Setelah selesai, Ryuki menyelimuti Reito dan mengecup pipinya dan kembali tidur.

Keesokan harinya, Reito terkejut mendapati apartemennya yang bersih. Reito juga mencium bau masakan dari dapurnya. “Ryuki-chan! Apa itu kau?” tanya Reito. “Chan?” balas Ryuki. “Hehe, itu karena kau sangat imut. Apa mata kirimu sudah baik?”

“Baik.” Ryuki tersenyum. “Apa yang kamu masak itu?” tanya Reito. “Krim sup, mau coba?” Ryuki menyendokkan sup buatannya dan menyuapkannya ke Reito. “Wah, ini enak sekali, Ryuki!” seru Reito. Pipi Ryuki pun memerah.

        TING….TONG…! bel apartemen Reito berbunyi. “Iya sebentar!” teriak Reito. Reito membuka pintu dan ternyata Rena. “Ohayou gozaimasu, ada apa pagi-pagi ke sini?” tanya Reito. “Ohayou, hanya melihat keadaanmu saja. Boleh aku masuk?”
“Tentu” Reito mempersilahkan Rena masuk. “Rapih sekali ruanganmu ini!” kejut Rena. “Haha kau terkejut?” canda Reito. “Tentu saja! Ngomong-ngomong kau yang membersihkan semua ini?” tanya Rena. "Bukan, tapi Ryuki teman baruku" jawab Reito. "Oh begitu."

       Mereka kemudian bercanda dan tertawa-tawa, Ryuki yang sudah selesai memasak supnya mengintip Reito dan Rena yang berada di ruang tamu. Dalam hati Ryuki ada kebencian pada Rena ketika Rena dekat dengan Reito.

      Ryuki membawa semangkuk besar sup dan memberikannya kepada Reito, lalu kembali ke dapur. “Ryuki-chan, kemarilah!” panggil Reito. Ryuki duduk di kursi sebelah Rena. “Rena, ini Ryuki. Dia yang membersihkan ruanganku. Ryuki, ini Rena pacarku." kata Reito. ”Reito-kun, mengapa kau memanggilnya dengan sebutan 'chan'?" tanya Rena. "Bukankah dia sangat imut? Ayo bersalamanlah!" seru Reito. Ryuki dan Rena bersalaman “Salam kenal.” Ryuki hanya tersenyum dengan terpaksa. “Reito-kun, aku ingin ke danau” pamit Ryuki tanpa memperdulikan jawaban Reito.

        Ryuki menyentuh air di danau dengan jemari kakinya. Ryuki melepas kalungnya kembali menjadi bebek putih kecil. Ryuki menyembunyikan pakaiannya dan berenang-renang di danau. “Maaf, aku pergi terlalu cepat sehingga aku lupa memberi tahumu cara kau kembali jadi manusia.” Asdera muncul tiba-tiba di bawah Ryuki. Ryuki terkejut "Mengapa kau ada di sini?" Asdera tertawa kecil. "Bukankah aku seorang penguasa setiap danau. Jadi, aku bisa berada di danau apa saja" “Ah, iya aku lupa. Jadi, bagaimana?” tanya Ryuki. “Jika kamu ingin jadi manusia kembali, pakai saja kalung itu. Jangan pernah mengungkapkan perasaanmu atau harus ada jiwa yang akan dikorbankan!” Asdera pun menghilang. Sementara Ryuki masih ingin berenang-renang hingga siang hari.

    “Ryuki-chan!” panggil Reito. Ryuki segera mengeringkan tubuhnya dan kembali menjadi manusia. Ryuki mendekati Reito. "Kau juga suka berada di sini?" tanya Reito. Ryuki mengangguk. "Entah kenapa aku merasa aneh pada Rena. Apakah ada sesuatu yang kau tahu?" Kata-kata Reito membuat Ryuki tersentak. "Umm, entahlah. Itu mungkin hanya perasaanmu saja. Rena itu gadis yang cantik dan baik, bukan?" Reito mengangguk pelan dan terdiam. Ryuki melepaskan pakaiannya dan melompat ke danau, sehingga airnya mengenai wajah Reito. "Hei!" teriak Reito. "Hehe, ayo bersenang-senanglah!" ajak Ryuki sembari menarik tangan Reito hingga Reito terjatuh ke dalam danau. "Kau ini nakal sekali." Reito mencubit pipi Ryuki. Ryuki tersenyum lebar dan mencipratkan air ke wajah Reito. Mereka pun bermain-main sampai puas.

“Ryuki, ayo kita pulang!” ajak Reito. Sesampainya mereka di rumah, Reito menyuruh Ryuki untuk duduk. “Sekarang aku akan buatkan makan siang untukmu” ucap Reito. Ryuki hanya mengangguk dan menunggu Reito selesai memasak, tiba-tiba tercium bau gosong dari dapur. “Ada apa ini, Reito-kun?” tanya Ryuki. “Hanya makanan gosong.” Ryuki tertawa kecil. “Biar aku saja yang membuat.”

     “Biarkan aku sendiri yang melakukannya, kau duduk saja ya.. ini sebagai rasa terima kasihku padamu karena membuatkanku makanan yang enak.” Reito mendorong Ryuki keluar dari dapur. Wajah Ryuki memerah. Ryuki pun menunggu Reito lagi. Akhirnya Reito selesai memasak makanannya. “Ayo makan bersama!” ajak Reito. Reito mengambilkannya untuk Ryuki “Terima kasih”

      "Itadakimasu!" Mereka berdua memakan makanannya, Reito menahan muntah karena makanannya sendiri, sedangkan Ryuki melahap makanan buatan Reito hingga habis. Reito merasa keheranan dengan Ryuki. “Masakanku enak?” tanya Reito. “Oishi!” jawab Ryuki tanpa brbohong. “Kau tak menghabiskan makanannya?” tanya Ryuki. “Aku sudah kenyang.” Reito berbohong.

      “Ryuki, maukah kau ikut ke bioskop bersama Rena, aku dan Kei, sahabatku?” tanya Reita. “Apa itu bioskop?”
“Bioskop itu tempat kita menonton film. Kau mau ikut?”
“Umm, baiklah.”
Saat di bioskop, Ryuki duduk di belakang Reito, sedangkan Rena dan Kei berada di sebelah Reito. Sekali lagi sebuah pemandangan yang bisa membuat hati Reito sakit, kembali terlihat. Reito yang merangkul Rena tak menyadari bahwa sahabatnya sendri berkhianat dengan menggenggam tangan pacarnya di belakangnya.

     Film pun telah selesai, Reito berpisah dengan Kei dan Rena diantar pulang oleh Reito bersama dengan Ryuki. Setelah sampai di rumah Rena, Rena memeluk Reito sebelum masuk ke rumahnya, htai Ryuki menjadi panas melihat hal tersebut. Ryuki tertidur di dalam mobil Reito. Jadi Reito memindahkan Ryuki ke tempat tidurnya dan Reito sendiri akan tidur di sofa.

      Ryuki bermimpi buruk sehingga dia mengigau dan membuat Reito terkejut. “Ryuki-chan.. Ryuki-chan.. bangun!” Ryuki pun terbangun dan ketakutan. “Sudah tidak apa-apa itu hanya mimpi. Um, agar kau tenang, ini untukmu. Pakailah! Dulu ibuku yang memberikannya padaku ketika aku masih kecil.” Reito memakaikan gelang penangkal mimpi buruk. Ryuki tersipu-sipu malu. "Reito-kun, aku harap kau masih mengingatku suatu saat nanti." Reito terkejut dengan perkataan Ryuki. "Apa maksudmu?" tanya Reito. Ryuki menggelengkan kepalanya, lalu tertidur.

Momen-momen bersama Reito takkan terlupakan oleh Ryuki.

================================= oo ====================================

Tiga hari kmudian

      Selama masa liburan, Reito selalu ditemani oleh Ryuki, Rena dan Kei. Selama masa-masa itu, Ryuki bahagia karena bisa selalu berada di sisi Reito.

         Pagi ini, mereka merencanakan untuk kemping ke puncak. Ryuki adalah seorang adik bagi Reito, jadi ia selalu ikut kemana pun Reito pergi. Setelah sampai, mereka mendirikan 4 tenda untuk masing-masing seorang.

          Malam pun tiba, mereka bernyanyi-nyanyi di dekat api unggun. Sembari memakan makan malamnya. Malam mulai larut, jadi mereka semua tidur. Namun, Ryuki tak bsa tidur, jadi ia memutuskan untuk berjalan-jalan. Tanpa sengaja ia melihat Rena dan Kei berpelukan mesra. Ia juga melihat Reito yang memendam amarahnya di seberang Ryuki. Rena dan Kei terkejut karena tindakan mereka dilihat oleh Reito. “Jadi, kalian semua mencoba mengkhianatiku dari belakang! Kau juga tahu dari awal. Benar, Ryuki?! Dasar kau tak tahu terima kasih!” teriak Reito. Ryuki hanya terdiam. “Kami mencoba menjelaskannya kepadamu, tapi ini rumit, Reito-san.” jelas Rena. “Aku benci kalian semua!” Reito berlari meninggalkan Rena dan Kei, sementara Ryuki mengejar Reito. “Reito-kun! Tunggu! Biar aku jelaskan” teriak Ryuki. “Tak ada yang perlu dijelaskan! Semua sudah jelas di hadapanku!!!” Reito berlari hingga jatuh ke jurang. “Reito-kun!!!” teriak Ryuki.

         Ryuki pun akhirnya ikut melompat ke jurang untuk menyelamatkan Reito. “Kenapa kau melompat ke jurang juga?! BODOH!!! Pergilah! Biarkan aku mati!!!” maki Reito. “Reito-kun, kau tak boleh mati. Kau harus menjalani hidupmu.” Ryuki meneteskan air matanya. "Kenapa kau sangat peduli padaku?" tanya Reito. "Karena..karena.. aku menyukaimu, Reito-kun.." Ryuki tanpa sengaja mengungkapkan perasaannya, lalu mereka jatuh ke sebuah danau. “Reito-kun!!” Ryuki berteriak dan ia berenang jauh di dalam danau mencari Reito. Ia melihat Asdera memegang sangkar dengan seekor angsa di dalamnya. “Hai, Ryuki! Karena kau melanggar pantangan, jadi dia yang kau sayangi juga akan menjadi korban” Asdera meletakkannya di atas tumpukan sangkar lainnya. “Kumohon jangan, Asdera!” pinta Ryuki. “Tidak bisa!” Asdera berteriak dengan berapi-api dan mengambil kalung biru Ryuki dan Ryuki kembali menjadi wujudnya semula.

     Tanpa berkata apa-apa lagi, Ryuki berusaha meraih sangkar dengan jiwa angsa Reito di dalamnya. Karena tubuhnya, menggapainya.”Hahaha, kau tak bisa meraihnya, kecil!” tawa Asdera. Tapi, karena kebesaran cintanya ia dapat meraih dan membawanya. Asdera terkejut “Hei, berhenti!!! Jiwa angsa kesayanganku sudah menghilang karena kau melanggar pantangannya dan jiwa itu harus digantikan untuk menjaga keseimbangan danau ini!!”

     Ryuki tetap berlari menjauh tak memperdulikan ucapan Asdera. Ia berhenti dan membuka sangkarnya dan melepaskan jiwa Reito. Jiwa Reito pun pergi bebas. "Jika, jiwa angsa itu membutuhkan pengganti, aku bersedia menjadi penggantinya. Tapi, izinkan aku untuk menemui Reito untuk yang terakhir kalinya." ucap Ryuki. "Baiklah, jika itu keinginanmu." Ryuki pun membawa tubuh Reito ke tepi jurang dengan tubuh manusianya. Ryuki meneteskan air matanya, lalu kembali kepada Asdera yang sudah siap mengambil jiwanya.

    Akhirnya jiwa Ryuki yang menggantikannya. Sementara Reito kembali hidup dan selamat, namun ia kehilangan sebagian ingatannya. “Kau tak apa-apa, Reito-san?” tanya Rena. “Iya aku tak apa-apa, kenapa kita ada di sini?” tnaya Reito. “Kau terjatuh dari jurang” ucap Kei yang muncul dari belakang. “Uhh, sekarang aku ingin pulang.”

      Sekarang semua ingatan tentang Ryuki dihapus dari setiap orang yang mengenalnya, seakan-akan Ryuki itu tidak ada. Karena Reito tidak ingat bahwa Rena adalah pacarnya, jadi sekarang Rena menjadi pacar Kei dan pindah ke luar kota, sedangkan Reito hidup sendiri dan kesepian. Ketika berada dikamar apartemennya, Reito menatap sebuah gelang dan memakainya, lalu ia merenung di tepi danau seperti yang sudah biasa ia lakukan, namun ia merasa ada sesuatu yang menghilang. Bebek putih yang selalu menatapnya ketika ia berada di tepi danau, kini sudah tiada.

END~