Sena P.O.V
Lagi-lagi aku bertemu Dion di stasiun kereta api yang tak jauh dari sekolah setelah pulang sekolah. "Hai! Kita bertemu lagi! Mau makan bareng?" tawarku. Dion diam saja, mungkin dia malu-malu. "Ayolah, kita kan teman lama, nggak usah sungkan!" paksaku sembari menarik tangannya menuju sebuah restoran yang tak jauh dari sana.
"Nah, sekarang kau mau makan apa? Nanti aku yang bayar." tawarku. "Nasi goreng dan es jeruk aja." jawabnya. "Wah, kau masih sama yah! Apakah kau masih suka main layang-layang di festival seperti dulu?" tanyaku. "Udah tidak." jawabnya singkat.
Mendengar jawabannya yang selalu singkat padaku selalu membuatku merasa tidak enak. "Umm, maaf sebenarnya aku gak lupa kok sama kamu." ucapnya. "Wah, bagus dong kalau begitu! Kita tak perlu canggung seperti ini. Ngomong-ngomong, kamu udah gak berminat lagi main layang-layangan, kenapa?" tanyaku. "Yah, hanya bosan saja." jawabnya kemudian.
Makanan yang kami pesan sudah tersedia di atas meja kami. Setelah kami selesai menyantap makan siang kami. "Eh, aku boleh main ke rumah kamu nggak? Sekalian kasih salam dan titip salam ke orang tua kamu juga." tanyaku. "Hmm, tentu." jawabnya. "Jadi, dimana rumahmu?" tanyaku. "Nggak jauh kok, cukup jalan kaki aja dari sini."
Setelah sampai di rumahnya yang ternyata tak terlalu jauh dari tempat tinggalku, jadi aku bisa main ke sini lain waktu. "Maaf kalau rumahku agak kelihatan berantakan." katanya. "Ah, gak apa-apa. Orang tua kamu lagi kerja?" Dia mengangguk. "Jadi, kita mau main atau mau ngerjain pr bareng nih?" tanyaku. "Ngerjakan pr bareng. Ayo ke kamarku!" ajaknya.
Aku masuk ke kamar baru Dion yang rapi banget. "Wah, kamarmu rapi banget! Kamu rajin banget!" seruku dengan gemas sembari mencubit pipi Dion. "Ih, sakit! Yang bersihin kamarku itu pelayanku." tuturnya. "Ternyata Dion punya seorang maid." godaku. Dion cemberut. "Maid itu buat perempuan, yang buat laki-laki itu butler, tau!" pekiknya. "Aduh, betapa imutnya dia kalau cemberut" pikirku. "Ah, sama saja artinya, Dion! Yuk, ngerjain pr-nya aja!" bujukku. Akhirnya aku dan Dion mengerjakan pr kita masing-masing bersama hingga selesai.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.00. "Kryuuuuk!" perutku berbunyi. Dion menoleh ke arahku. "Kau lapar? Umm, pembantuku sedang keluar. Hmm, aku buatkan makanan ya." katanya dengan nada yang meragukan. "Umm, tidak usah. Aku bisa makan di rumah." ucapku. "Sudahlah, tidak apa-apa." katanya dan berlari ke dapur rumahnya. Aku menunggu dan perasaanku mulai tak enak. Aku pun ikut menuju ke dapur rumahnya. "Ya ampun!" seruku. Dion terlonjak kaget ketika melihatku dan menunduk. Dapur rumahnya jadi berantakan. "Udahlah tidak apa-apa, nanti aku yang bereskan sekalian memasak makanannya. Sekarang kamu duduk saja." hiburku. Aku mulai membersihkan alat makan dan kompornya yang terkena makanan, lalu mulai memasak.
"Nah, makanannya udah jadi! Silahkan dinikmati bersama!" seruku. "Terima kasih." katanya. "Yang seharusnya berterima kasih itu aku." balasku. Lalu, kami menyantap makanan itu bersama.
Jam sudah menjukkan pukul 15.30. "Sudah sore, nih. Aku pulang dulu ya. Makasih banyak." pamitku sembari mengelus kepala Dion. Dan aku pulang ke rumahku yang berada di kos sederhana tak jauh dari rumahnya.
=============
Dion P.O.V
Lagi-lagi aku bertemu dengannya lagi di stasiun. Dan dia mengajakku makan siang bersama. Dia ingin ke rumahku dan aku membolehkannya lagipula aku bosan berada sendirian di rumah karena Rudy, pelayanku sedang mengerjakan tugas sambilannya.
Yah, meski dia sempat membuatku cemberut karena aku mempunyai "maid" dan dia mencubit pipiku juga. Tapi, dia kembali mencairkan suasana. Di saat dia lapar, aku coba untuk memasak, dan hasilnya adalah dapurku berantakan, aku gemetaran dan malu, tapi Sena yang menenangkanku juga membersihkan semuanya. Yah, dia memang sahabat yang baik, yang terkadang membuatku jengkel juga. Rasanya kalau ada dia itu seperti kembali memainkan layang-layangku yang dulu, terkadang menyenangkan, tapi juga menjengkelkan ketika tersangkut di atas pohon atau benangnya putus. Humph, aku rindu dengan hal-hal itu. Dan ketika ia mengelus kepalaku sebelum ia pulang, rasanya sudah lama sekali aku tak merasakan hal ini.
=============
bersambung~
Welcome to my blog and join my story! ^o^)/~ I hope you enjoy and like it (\^.^)/ Comment your opinions about my post! Thanks (\^.^)/~
Senin, 28 Januari 2013
Sabtu, 26 Januari 2013
I Hope We Always Together Part II
Sena P.O.V
Hari pertama aku berada di sekolah ini. Hmm, tak buruk juga. Anehnya aku merasa kalau Dion juga bersekolah di sini. Aku berharap ia bersekolah di sini juga. Aku rindu dengan tawanya yang lucu itu dan wajahnya yang manis itu.
Dan pelajaran dimulai hingga selesai, karena aku sudah kenal dengan beberapa siswa, jadi aku tidak terlihat canggung. Aku dan teman baruku ini menuju ke kantin sekolah ini. Kulihat seorang siswa tengah duduk sendirian, ingin rasanya aku mendekatinya dan mengajaknya berteman. Akhirnya aku meminta pindah dan aku mendekati siswa itu. Siswa itu memalingkan wajahnya. Karena au tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, ku ajak berkenalan saja. "Hai, namaku Sena Aditya, siswa baru di sini. Siapa namamu?" tanyaku. "Aku Dion." jawabnya singkat. Aku terkejut karena namanya Dion. "Dion Terata?" tanyaku sekali lagi. Siswa itu menoleh. "Kamu tau darimana?" tanyanya. Aku kegirangan gak karuan. "Wah, ini benar-benar kau! Masa kamu tidak ingat sama aku, tema masa kecilku" Siswa itu kembali memalingkan wajahnya. "Aku lupa." jawabnya dengan singkat. "Gubrak!" rasanya seperti tertimpa bata, dia melupakan aku. "Ya sudahlah tidak apa-apa. Kita bisa mulai dari awal. Sampai ketemu nanti."
=============
Dion P.O.V
Sudah lama aku tak bertemu Sena dan ia berada di sini di saat aku sendirian. Sebenarnya aku hanya berpura-pura cuek dan tak ingat padanya. Aku masih mengingat kejahilannya padaku, namun kemudian kembali berbaikan, dan aku masih ingat ketika ia mengusap kepalaku. Aneh, aku merasa sudah lama sekali aku tidak merasakan hal seperti ini.
=============
Hari pertama aku berada di sekolah ini. Hmm, tak buruk juga. Anehnya aku merasa kalau Dion juga bersekolah di sini. Aku berharap ia bersekolah di sini juga. Aku rindu dengan tawanya yang lucu itu dan wajahnya yang manis itu.
Dan pelajaran dimulai hingga selesai, karena aku sudah kenal dengan beberapa siswa, jadi aku tidak terlihat canggung. Aku dan teman baruku ini menuju ke kantin sekolah ini. Kulihat seorang siswa tengah duduk sendirian, ingin rasanya aku mendekatinya dan mengajaknya berteman. Akhirnya aku meminta pindah dan aku mendekati siswa itu. Siswa itu memalingkan wajahnya. Karena au tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, ku ajak berkenalan saja. "Hai, namaku Sena Aditya, siswa baru di sini. Siapa namamu?" tanyaku. "Aku Dion." jawabnya singkat. Aku terkejut karena namanya Dion. "Dion Terata?" tanyaku sekali lagi. Siswa itu menoleh. "Kamu tau darimana?" tanyanya. Aku kegirangan gak karuan. "Wah, ini benar-benar kau! Masa kamu tidak ingat sama aku, tema masa kecilku" Siswa itu kembali memalingkan wajahnya. "Aku lupa." jawabnya dengan singkat. "Gubrak!" rasanya seperti tertimpa bata, dia melupakan aku. "Ya sudahlah tidak apa-apa. Kita bisa mulai dari awal. Sampai ketemu nanti."
=============
Dion P.O.V
Sudah lama aku tak bertemu Sena dan ia berada di sini di saat aku sendirian. Sebenarnya aku hanya berpura-pura cuek dan tak ingat padanya. Aku masih mengingat kejahilannya padaku, namun kemudian kembali berbaikan, dan aku masih ingat ketika ia mengusap kepalaku. Aneh, aku merasa sudah lama sekali aku tidak merasakan hal seperti ini.
=============
bersambung~
Jumat, 18 Januari 2013
I Hope We Always Together Part I
"Hey, kembalikan layanganku dong!" teriak
Dion. "Nggak mau! Sini ambil kalau bisa!" balas Sena. Dion mulai
mendekati Sena. Sena tersandung batu dan terjatuh dan Dion pun ikut terjatuh di
atas tubuh Sena.
"Yes! Akhirnya aku dapat!" seru Dion sembari merebut layangannya dari tangan Sena. Sena bangkit dari tempatnya. "Aduh!" Sena mengaduh dan memegangi lututnya yang berdarah. "Eh, kamu nggak apa-apa?" tanya Dion yang mulai khawatir. "Ah, ini cuma luka biasa! Nggak apa-apa kok." jawab Sena. "Tunggu sebentar ya!" Dion pergi, sementara Sena menunggu di bawah pohon.
Akhirnya Dion kembali membawa kotak P3K dan sebotol air. "Tahan ya.." ucap Dion sembari menuangkan air ke lutut Sena yang berdarah. "Uh!" seru Sena. Dion mulai menatap Sena dengan tatapan meyakinkan. Lalu, Dion meneteskan obat merah dan membalutnya dengan perban. "Selesai!" seru Dion. Sena berdiri dan melenggangkan kakinya. "Makasih. Eh, terbangkan layanganmu dong!" pinta Sena. "Oke!" Dion menerbangkan layangannya. "Indah. Umm, berjanjilah kalau kita akan selalu bersama. Kita ini teman, bukan?" pinta Sena. Dion mengangguk. Mereka pun mengaitkan kelingking mereka.
Mereka berdua selalu bermain bersama-sama, sampai suatu ketika Dion akan pindah keluar kota karena orang tuanya dipindah tugaskan. "Maafkan aku, Sen. Aku tidak bisa menepati janjiku." ucap Dion yang mulai meneteskan air mata. "Kita bisa bertemu suatu hari nanti kok." Sena tersenyum dan mulai menenangkan Dion. "Semoga bertemu kembali." ucap Sena. Dion dan orang tuanya mulai menaiki kereta. Dion melambai dan Sena membalasnya.
=============
Sena
7 tahun berlalu. Dengan beasiswanya, Sena dipindahkan ke sekolah di luar kota. Di sekolah barunya, ia merasakan adanya Dion. Namun, ia mulai berpikir bahwa ia tidak bisa terus berharap akan bertemu Dion. Perasaannya yang terpendam pada Dion sejak kecil, masih ia simpan rapat-rapat dalam hatinya.
=============
Dion
Sudah 7 tahun ia tak bertemu temannya, Sena. Dion sudah menganggap Sena sebagai saudaranya sendiri.
Ia berjalan-jalan di sekitar sekolah dan terlihat siswa baru yang duduk di tepi air mancur sekolah. Terlintas dipikirannya bahwa siswa itu adalah Sena, tapi ia mulai berpikir kalau ia mungkin hanya berhalusinasi dan pergi.
=============
bersambung~
"Yes! Akhirnya aku dapat!" seru Dion sembari merebut layangannya dari tangan Sena. Sena bangkit dari tempatnya. "Aduh!" Sena mengaduh dan memegangi lututnya yang berdarah. "Eh, kamu nggak apa-apa?" tanya Dion yang mulai khawatir. "Ah, ini cuma luka biasa! Nggak apa-apa kok." jawab Sena. "Tunggu sebentar ya!" Dion pergi, sementara Sena menunggu di bawah pohon.
Akhirnya Dion kembali membawa kotak P3K dan sebotol air. "Tahan ya.." ucap Dion sembari menuangkan air ke lutut Sena yang berdarah. "Uh!" seru Sena. Dion mulai menatap Sena dengan tatapan meyakinkan. Lalu, Dion meneteskan obat merah dan membalutnya dengan perban. "Selesai!" seru Dion. Sena berdiri dan melenggangkan kakinya. "Makasih. Eh, terbangkan layanganmu dong!" pinta Sena. "Oke!" Dion menerbangkan layangannya. "Indah. Umm, berjanjilah kalau kita akan selalu bersama. Kita ini teman, bukan?" pinta Sena. Dion mengangguk. Mereka pun mengaitkan kelingking mereka.
Mereka berdua selalu bermain bersama-sama, sampai suatu ketika Dion akan pindah keluar kota karena orang tuanya dipindah tugaskan. "Maafkan aku, Sen. Aku tidak bisa menepati janjiku." ucap Dion yang mulai meneteskan air mata. "Kita bisa bertemu suatu hari nanti kok." Sena tersenyum dan mulai menenangkan Dion. "Semoga bertemu kembali." ucap Sena. Dion dan orang tuanya mulai menaiki kereta. Dion melambai dan Sena membalasnya.
=============
Sena
7 tahun berlalu. Dengan beasiswanya, Sena dipindahkan ke sekolah di luar kota. Di sekolah barunya, ia merasakan adanya Dion. Namun, ia mulai berpikir bahwa ia tidak bisa terus berharap akan bertemu Dion. Perasaannya yang terpendam pada Dion sejak kecil, masih ia simpan rapat-rapat dalam hatinya.
=============
Dion
Sudah 7 tahun ia tak bertemu temannya, Sena. Dion sudah menganggap Sena sebagai saudaranya sendiri.
Ia berjalan-jalan di sekitar sekolah dan terlihat siswa baru yang duduk di tepi air mancur sekolah. Terlintas dipikirannya bahwa siswa itu adalah Sena, tapi ia mulai berpikir kalau ia mungkin hanya berhalusinasi dan pergi.
=============
bersambung~
Langganan:
Komentar (Atom)
