Senin, 28 Januari 2013

I Hope We Always Together Part III

Sena P.O.V

Lagi-lagi aku bertemu Dion di stasiun kereta api yang tak jauh dari sekolah setelah pulang sekolah. "Hai! Kita bertemu lagi! Mau makan bareng?" tawarku. Dion diam saja, mungkin dia malu-malu. "Ayolah, kita kan teman lama, nggak usah sungkan!" paksaku sembari menarik tangannya menuju sebuah restoran yang tak jauh dari sana.

"Nah, sekarang kau mau makan apa? Nanti aku yang bayar." tawarku. "Nasi goreng dan es jeruk aja." jawabnya. "Wah, kau masih sama yah! Apakah kau masih suka main layang-layang di festival seperti dulu?" tanyaku. "Udah tidak." jawabnya singkat.

Mendengar jawabannya yang selalu singkat padaku selalu membuatku merasa tidak enak. "Umm, maaf sebenarnya aku gak lupa kok sama kamu." ucapnya. "Wah, bagus dong kalau begitu! Kita tak perlu canggung seperti ini. Ngomong-ngomong, kamu udah gak berminat lagi main layang-layangan, kenapa?" tanyaku. "Yah, hanya bosan saja." jawabnya kemudian.

Makanan yang kami pesan sudah tersedia di atas meja kami. Setelah kami selesai menyantap makan siang kami. "Eh, aku boleh main ke rumah kamu nggak? Sekalian kasih salam dan titip salam ke orang tua kamu juga." tanyaku. "Hmm, tentu." jawabnya. "Jadi, dimana rumahmu?" tanyaku. "Nggak jauh kok, cukup jalan kaki aja dari sini."

Setelah sampai di rumahnya yang ternyata tak terlalu jauh dari tempat tinggalku, jadi aku bisa main ke sini lain waktu. "Maaf kalau rumahku agak kelihatan berantakan." katanya. "Ah, gak apa-apa. Orang tua kamu lagi kerja?" Dia mengangguk. "Jadi, kita mau main atau mau ngerjain pr bareng nih?" tanyaku. "Ngerjakan pr bareng. Ayo ke kamarku!" ajaknya.

Aku masuk ke kamar baru Dion yang rapi banget. "Wah, kamarmu rapi banget! Kamu rajin banget!" seruku dengan gemas sembari mencubit pipi Dion. "Ih, sakit! Yang bersihin kamarku itu pelayanku." tuturnya. "Ternyata Dion punya seorang maid." godaku. Dion cemberut. "Maid itu buat perempuan, yang buat laki-laki itu butler, tau!" pekiknya. "Aduh, betapa imutnya dia kalau cemberut" pikirku. "Ah, sama saja artinya, Dion! Yuk, ngerjain pr-nya aja!" bujukku. Akhirnya aku dan Dion mengerjakan pr kita masing-masing bersama hingga selesai.

Jam sudah menunjukkan pukul 15.00. "Kryuuuuk!" perutku berbunyi. Dion menoleh ke arahku. "Kau lapar? Umm, pembantuku sedang keluar. Hmm, aku buatkan makanan ya." katanya dengan nada yang meragukan. "Umm, tidak usah. Aku bisa makan di rumah." ucapku. "Sudahlah, tidak apa-apa." katanya dan berlari ke dapur rumahnya. Aku menunggu dan perasaanku mulai tak enak. Aku pun ikut menuju ke dapur rumahnya. "Ya ampun!" seruku. Dion terlonjak kaget ketika melihatku dan menunduk. Dapur rumahnya jadi berantakan. "Udahlah tidak apa-apa, nanti aku yang bereskan sekalian memasak makanannya. Sekarang kamu duduk saja." hiburku. Aku mulai membersihkan alat makan dan kompornya yang terkena makanan, lalu mulai memasak.

"Nah, makanannya udah jadi! Silahkan dinikmati bersama!" seruku. "Terima kasih." katanya. "Yang seharusnya berterima kasih itu aku." balasku. Lalu, kami menyantap makanan itu bersama.

Jam sudah menjukkan pukul 15.30. "Sudah sore, nih. Aku pulang dulu ya. Makasih banyak." pamitku sembari mengelus kepala Dion. Dan aku pulang ke rumahku yang berada di kos sederhana tak jauh dari rumahnya.

=============

Dion P.O.V

Lagi-lagi aku bertemu dengannya lagi di stasiun. Dan dia mengajakku makan siang bersama. Dia ingin ke rumahku dan aku membolehkannya lagipula aku bosan berada sendirian di rumah karena Rudy, pelayanku sedang mengerjakan tugas sambilannya.

Yah, meski dia sempat membuatku cemberut karena aku mempunyai "maid" dan dia mencubit pipiku juga. Tapi, dia kembali mencairkan suasana. Di saat dia lapar, aku coba untuk memasak, dan hasilnya adalah dapurku berantakan, aku gemetaran dan malu, tapi Sena yang menenangkanku juga membersihkan semuanya. Yah, dia memang sahabat yang baik, yang terkadang membuatku jengkel juga. Rasanya kalau ada dia itu seperti kembali memainkan layang-layangku yang dulu, terkadang menyenangkan, tapi juga menjengkelkan ketika tersangkut di atas pohon atau benangnya putus. Humph, aku rindu dengan hal-hal itu. Dan ketika ia mengelus kepalaku sebelum ia pulang, rasanya sudah lama sekali aku tak merasakan hal ini.

=============

bersambung~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar