"Hey, kembalikan layanganku dong!" teriak
Dion. "Nggak mau! Sini ambil kalau bisa!" balas Sena. Dion mulai
mendekati Sena. Sena tersandung batu dan terjatuh dan Dion pun ikut terjatuh di
atas tubuh Sena.
"Yes! Akhirnya aku dapat!" seru Dion sembari merebut layangannya dari tangan Sena. Sena bangkit dari tempatnya. "Aduh!" Sena mengaduh dan memegangi lututnya yang berdarah. "Eh, kamu nggak apa-apa?" tanya Dion yang mulai khawatir. "Ah, ini cuma luka biasa! Nggak apa-apa kok." jawab Sena. "Tunggu sebentar ya!" Dion pergi, sementara Sena menunggu di bawah pohon.
Akhirnya Dion kembali membawa kotak P3K dan sebotol air. "Tahan ya.." ucap Dion sembari menuangkan air ke lutut Sena yang berdarah. "Uh!" seru Sena. Dion mulai menatap Sena dengan tatapan meyakinkan. Lalu, Dion meneteskan obat merah dan membalutnya dengan perban. "Selesai!" seru Dion. Sena berdiri dan melenggangkan kakinya. "Makasih. Eh, terbangkan layanganmu dong!" pinta Sena. "Oke!" Dion menerbangkan layangannya. "Indah. Umm, berjanjilah kalau kita akan selalu bersama. Kita ini teman, bukan?" pinta Sena. Dion mengangguk. Mereka pun mengaitkan kelingking mereka.
Mereka berdua selalu bermain bersama-sama, sampai suatu ketika Dion akan pindah keluar kota karena orang tuanya dipindah tugaskan. "Maafkan aku, Sen. Aku tidak bisa menepati janjiku." ucap Dion yang mulai meneteskan air mata. "Kita bisa bertemu suatu hari nanti kok." Sena tersenyum dan mulai menenangkan Dion. "Semoga bertemu kembali." ucap Sena. Dion dan orang tuanya mulai menaiki kereta. Dion melambai dan Sena membalasnya.
=============
Sena
7 tahun berlalu. Dengan beasiswanya, Sena dipindahkan ke sekolah di luar kota. Di sekolah barunya, ia merasakan adanya Dion. Namun, ia mulai berpikir bahwa ia tidak bisa terus berharap akan bertemu Dion. Perasaannya yang terpendam pada Dion sejak kecil, masih ia simpan rapat-rapat dalam hatinya.
=============
Dion
Sudah 7 tahun ia tak bertemu temannya, Sena. Dion sudah menganggap Sena sebagai saudaranya sendiri.
Ia berjalan-jalan di sekitar sekolah dan terlihat siswa baru yang duduk di tepi air mancur sekolah. Terlintas dipikirannya bahwa siswa itu adalah Sena, tapi ia mulai berpikir kalau ia mungkin hanya berhalusinasi dan pergi.
=============
bersambung~
"Yes! Akhirnya aku dapat!" seru Dion sembari merebut layangannya dari tangan Sena. Sena bangkit dari tempatnya. "Aduh!" Sena mengaduh dan memegangi lututnya yang berdarah. "Eh, kamu nggak apa-apa?" tanya Dion yang mulai khawatir. "Ah, ini cuma luka biasa! Nggak apa-apa kok." jawab Sena. "Tunggu sebentar ya!" Dion pergi, sementara Sena menunggu di bawah pohon.
Akhirnya Dion kembali membawa kotak P3K dan sebotol air. "Tahan ya.." ucap Dion sembari menuangkan air ke lutut Sena yang berdarah. "Uh!" seru Sena. Dion mulai menatap Sena dengan tatapan meyakinkan. Lalu, Dion meneteskan obat merah dan membalutnya dengan perban. "Selesai!" seru Dion. Sena berdiri dan melenggangkan kakinya. "Makasih. Eh, terbangkan layanganmu dong!" pinta Sena. "Oke!" Dion menerbangkan layangannya. "Indah. Umm, berjanjilah kalau kita akan selalu bersama. Kita ini teman, bukan?" pinta Sena. Dion mengangguk. Mereka pun mengaitkan kelingking mereka.
Mereka berdua selalu bermain bersama-sama, sampai suatu ketika Dion akan pindah keluar kota karena orang tuanya dipindah tugaskan. "Maafkan aku, Sen. Aku tidak bisa menepati janjiku." ucap Dion yang mulai meneteskan air mata. "Kita bisa bertemu suatu hari nanti kok." Sena tersenyum dan mulai menenangkan Dion. "Semoga bertemu kembali." ucap Sena. Dion dan orang tuanya mulai menaiki kereta. Dion melambai dan Sena membalasnya.
=============
Sena
7 tahun berlalu. Dengan beasiswanya, Sena dipindahkan ke sekolah di luar kota. Di sekolah barunya, ia merasakan adanya Dion. Namun, ia mulai berpikir bahwa ia tidak bisa terus berharap akan bertemu Dion. Perasaannya yang terpendam pada Dion sejak kecil, masih ia simpan rapat-rapat dalam hatinya.
=============
Dion
Sudah 7 tahun ia tak bertemu temannya, Sena. Dion sudah menganggap Sena sebagai saudaranya sendiri.
Ia berjalan-jalan di sekitar sekolah dan terlihat siswa baru yang duduk di tepi air mancur sekolah. Terlintas dipikirannya bahwa siswa itu adalah Sena, tapi ia mulai berpikir kalau ia mungkin hanya berhalusinasi dan pergi.
=============
bersambung~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar