Sena tertidur di kamar tamu karena kelelahan. Dion mengintip dari balik pintu untuk memastikan. Tiba-tiba, Grace, sepupu Dion, datang dan mengagetkan Dion. "Hai, Ionny!" seru Grace. "Duh, jangan ngagetin gitu dong!" balas Dion. "Ngapain ngintip kamar tamu? Coba kulihat!" ucap Grace sembari mendorong Dion dari depan pintu kamar tamu. "Ah, siapa itu, Ionny?" tanya Grace sembari menyeringai. "Cuma teman." jawabnya singkat. "Ah, cuma teman?! Lalu, mengapa kau mengintipnya?" tanya Grace curiga. "Cuma memastikan saja." jawabnya. "Memastikan bagaimana? Dia kelihatan baik-baik saja, kok! Ada sesuatu, yah?" Grace kembali menyeringai. "Ish, pikiranmu ini aneh-aneh aja!" pekik Dion. "Terserahlah." ucap Grace sambil berlalu.
Pukul 6 sore Sena terbangun. Dilihatnya jam yang berada di dinding kamar tamu Dion. Ia terkejut karena hari sudah gelap. Dion datang dan membawa segelas susu coklat untuk Sena. "Eits, nggak biasanya kamu membuatkan minuman untuk tamu!" Grace menyeringai lagi. Dion hanya cemberut menanggapi sepupunya itu.
"Sen, ini susu coklat hangat buat kamu. Diminum dulu!"
"Makasih." ucap Sena sambil meneguk susu coklat yang masih panas tersebut. "Pueh!"
"Masih panas, Sen. Pelan-pelan saja."
"Tapi, ini udah gelap. Aku harus buru-buru pulang."
"Kenapa nggak bermalam di sini saja? Kan, besok libur!" ajak Dion.
"Tapi, aku udah ngrepotin kamu."
"Ah, nggak apa-apa! Udah, habisin dulu minumnya!"
Diam-diam Grace mengintip dari balik pintu kamar tamu tersebut dan tertawa kecil.
"Kamu ngapain, Grace?" tanya Dion. "Dia siapa, Di?" tanya Sena. "Hehe, aku Grace, sepupu Dion, salam kenal."
"Salam kenal. Aku Sena." balas Sena. "Umm, aku cuma mau memberitahu aja kalau makan malam sudah siap. Yuk, ke ruang makan sekarang!" ajak Grace.
Sena, Grace, Rudy, dan Dion pun berkumpul di ruang makan dan makan bersama. Beberapa menit berlalu, Dion yang sudah selesai makan beranjak dari tempat duduknya. Rudy ikut beranjak dan mencolek sambal yang menempel di bibir Dion. Sena menggerutu. "Kenapa pembantu di sini laki-laki, sih?" gumamnya. Grace yang tak sengaja mendengar gumaman Sena tertawa kecil. "Cemburu, nih?" godanya. "Eh, nggak! nggak! Apaan sih?!" celetuk Sena. Grace menyeringai dan beranjak.
Sena duduk di kamar tamu Dion. Grace menghampirinya. "Mikirin kejadian tadi?" tanyanya. "Maksud kamu?" tanya balik Sena. "Well, aku hanya menebak saja. Mau main game? Dion suka sekali main game ini, nanti aku ajak Dion sekalian saja."
"Ah, tidak usah! Mungkin dia sibuk atau apalah, jangan diganggu!"
"Umm, ngomong-ngomong, kamu yang selalu mengajak Dion bermain keluar?"
"Ya."
"Berkat kamu Dion mulai sedikit demi sedikit kembali ceria."
"Memangnya dia kenapa?"
"Yah, masalah kurangnya kasih sayang membuatnya lebih memilih sendiri."
"Oh, begitukah? Ngomong-ngomong, kamu ini kenapa daritadi kelihatan mencurigai aku?"
"Mencurigai bagaimana?"
"Mana kutahu! Kamu ini!"
Grace terkejut dan tertawa. Sementara Sena terheran-heran sendiri.
"Hai, lagi ngomongin apa?" tanya Dion yang datang.
"Nggak kok. Aku pergi dulu, ya." jawab Grace.
"Apa kalian selalu seperti itu?" tanya Sena.
"Apanya?" tanya Dion balik.
"Kau dan Rudy melakukan hal seperti tadi?"
"Kau ini mengada-ada saja, Sen. Rudy itu memang seperti kakakku sendiri."
Sena terdiam.
"Main game, yuk!" ajak Dion.
Mereka pun bermain game sampai tertidur.
============
bersambung~
Storiest
Welcome to my blog and join my story! ^o^)/~ I hope you enjoy and like it (\^.^)/ Comment your opinions about my post! Thanks (\^.^)/~
Sabtu, 09 Maret 2013
Jumat, 08 Februari 2013
I Hope We Always Together Part V
Sena P.O.V
Perasaanku pada Dion yang sudah lama kupendam ingin sekali aku ungkapkan padanya. Tapi, akankah ia menerimanya? Tapi apakah perasaan ini takkan pernah tersampaikan? Aku bingung. Ah, suatu saat ada waktunya aku mengatakannya.
Seperti biasanya, aku mengajak Dion bermain layangan. Tapi, ia terlihat murung. "Kamu murung kenapa?" tanyaku. "Ah, aku gak apa-apa kok!" jawabnya. "Gak usah bohong, Di. Kalau ada masalah, cerita aja ke aku. Aku kan temen kamu." Dion hanya menunduk. "Ah, bosan, nih! Main di sana, yuk!" ajakku sambil menunjuk air mancur yang berada di tengah lapangan. Aku menarik tangannya.
Kami berdua pun bersandar di pinggir air mancur. Terlintas dipikiranku untuk menjaili Dion yang manis ini. Kucipratkan air yang ada di air mancur ini. "Apaan sih, Sen?!" bentaknya. "Habisnya kamu ngantuk mulu. Ya, aku bangunin kamu aja." jelasku. "Ngantuk darimana?!" Dion membalas menciprat ke arahku. "Habis kamu nunduk mulu." kataku sambil mencipratnya balik. Dion membalasku. Dan akhirnya aku dan dia main ciprat-cipratan.
"Udah, ah! Nanti basah!" bentaknya. "Biarin!" Aku menjulurkan lidah. Dan akhirnya kami pun berhenti karena kami sudah basah kuyup. "Ntar kalau aku masuk angin gimana? Kamu mau tanggung jawab?!" tanyanya dengan nada marah. "Kamu tanya kok kayak cwe minta pertanggungjawaban ke cwo-nya? Haha!" candaku. "Aih, aku serius, nih!" Dion menghentakkan kakinya. Aku menghela nafas. "Ya udah, aku antar kamu pulang aja. Gak usah ngambek, jelek tahu!" Aku mencubit pipinya.
Aku mengantar pulang Dion, tentu saja dengan sepedaku ini. Setelah sampai di rumahnya, ia segera pergi mandi. Sementara aku akan pergi pulang. "Eh, kamu mau kemana?" tanyanya. "Ya mau pulang lah." jawabku. "Gak ikut mandi aja?" tawarnya. "Hah?" Aku terkejut. "Maksud kamu?" tanyaku memastikan. "Kamu mandi di rumahku aja. Kan gara-gara aku juga kamu jadi basah kuyup." jelasnya. "Umm, gak usah. Aku mandi di rumahku aja." tolakku. "Ayolah, kamu kan udah nganter aku pulang!" rajuknya. Ia terlihat sangat imut. "Ya udah deh, terserah kamu aja."
Aku menunggu Dion selesai mandi. Setelah Dion selesai, aku terkejut. Dion hanya memakai handuk. "Kok muka kamu merah begitu, Sen?" tanyanya. "Gak apa-apa." jawabku canggung. "Ya sudah. Kamar mandinya di sebelah sana." katanya. Aku pun dengan cepat masuk ke kamar mandinya. Kamar mandinya agak besar untuk satu orang. Aku membuka keran shower yang ada di kamar mandi itu. Dan kupandang cermin di depanku. Wajahku memerah.
Setelah aku selesai, aku menghampiri Dion yang sedang minum teh yang mungkin disediakan oleh maidnya di ruang tamunya. "Eh, trus aku pake baju apaan?" tanyaku. Dion yang yang tadi menyeruput tehnya, tersedak. "Uhuk..uhuk.. kamu ngagetin aku aja. Nih, bajunya!" Dion melemparkan kaus hitam dan celana selutut ke arahku. "Baju siapa, nih?" tanyaku. "Bajunya Rudy." jawabnya singkat. "Rudy siapa?" tanyaku lagi. "Orang yang selalu kamu sebut maid" jawabnya sembari menyeruput tehnya. "Oh, maidmu."
Aku langsung memakai baju itu tanpa berpindah ke ruangan lain. "Heh, kamu gak malu apa?" tanyanya terkejut. "Nggak. Lagian di sini nggak ada cwe, kan? Ngapain malu? Apa jangan-jangan kamu yang malu ngliat aku? Haha." candaku. "Ih, kamu ini!" ucapnya sembari mencubit lenganku. Aku terkikik geli melihat tingkahnya.
Setelah aku selesai berpakaian, aku mengambil pakaian basahku dan bersegera pulang. Tiba-tiba, ketika kusampai di depan pintu rumah Dion, hujan turun dengan derasnya. "Wah, hujan!" seruku. "Nginep aja di rumahku." katanya. Aku tersentak. "Eh, beneran?" tanyaku. "Iya." jawabnya. Dalam hati tentu aku serasa bagai di alam mimpiku sendiri.
=========
Dion P.O.V
Seperti biasanya, aku selalu di ajak bermain layangan oleh Sena. Yah, akibat perlakuan teman sekelasku, aku jadi malas. Tapi, lagi-lagi Sena mengembalikkan mood-ku. Tentu saja dengan kejailannya. Dan akibatnya badanku jadi basah kuyup. Aku dibuat cemberut lagi oleh candanya, tapi itu tidak seperti rasa jengkelku pada teman sekelasku itu. Ini mungkin rasa jengkel yang membuat orang merasa lebih baik.
Dan dia pun mengantarku pulang. Kutawari dia untuk mandi di rumahku. Sempat ia menolaknya, tapi pada akhirnya dia pun menerimanya karena aku bersikeras.Entah mengapa aku begitu bersikeras, mungkin karena aku ingin membalas kebaikannya. Lalu, aku mandi. Dan setelah selesai aku menghampirinya hanya dengan balutan handuk di bagian bawah tubuhku. Wajahnya memerah. Aku sedikit khawatir apakah wajahnya memerah karena ia menunggu terlalu lama dan kedinginan atau entahlah karena apa.
Dan giliranku menunggunya selesai mandi. Sambil menunggu aku menyeruput teh yang disediakan Rudy. Dan aku tersedak karena Sena mengagetkanku. Aku memberinya pakaian Rudy karena pakaianku mungkin akan kekecilan jika dipakai olehnya.
Dia memakai pakaiannya di depanku. Tentu saja aku terkejut. Tapi, lagi-lagi aku hanya tertegun dengan jawabannya. Setelah ia selesai dan membenahi pakaiannya yang basah, hujan pun turun dengan derasnya. Jadi kutawari saja teman lamaku ini untuk menginap di rumahku. Anehnya, ia berbinar seperti ditawari untuk tinggal di surga.
=========
bersambung~
Perasaanku pada Dion yang sudah lama kupendam ingin sekali aku ungkapkan padanya. Tapi, akankah ia menerimanya? Tapi apakah perasaan ini takkan pernah tersampaikan? Aku bingung. Ah, suatu saat ada waktunya aku mengatakannya.
Seperti biasanya, aku mengajak Dion bermain layangan. Tapi, ia terlihat murung. "Kamu murung kenapa?" tanyaku. "Ah, aku gak apa-apa kok!" jawabnya. "Gak usah bohong, Di. Kalau ada masalah, cerita aja ke aku. Aku kan temen kamu." Dion hanya menunduk. "Ah, bosan, nih! Main di sana, yuk!" ajakku sambil menunjuk air mancur yang berada di tengah lapangan. Aku menarik tangannya.
Kami berdua pun bersandar di pinggir air mancur. Terlintas dipikiranku untuk menjaili Dion yang manis ini. Kucipratkan air yang ada di air mancur ini. "Apaan sih, Sen?!" bentaknya. "Habisnya kamu ngantuk mulu. Ya, aku bangunin kamu aja." jelasku. "Ngantuk darimana?!" Dion membalas menciprat ke arahku. "Habis kamu nunduk mulu." kataku sambil mencipratnya balik. Dion membalasku. Dan akhirnya aku dan dia main ciprat-cipratan.
"Udah, ah! Nanti basah!" bentaknya. "Biarin!" Aku menjulurkan lidah. Dan akhirnya kami pun berhenti karena kami sudah basah kuyup. "Ntar kalau aku masuk angin gimana? Kamu mau tanggung jawab?!" tanyanya dengan nada marah. "Kamu tanya kok kayak cwe minta pertanggungjawaban ke cwo-nya? Haha!" candaku. "Aih, aku serius, nih!" Dion menghentakkan kakinya. Aku menghela nafas. "Ya udah, aku antar kamu pulang aja. Gak usah ngambek, jelek tahu!" Aku mencubit pipinya.
Aku mengantar pulang Dion, tentu saja dengan sepedaku ini. Setelah sampai di rumahnya, ia segera pergi mandi. Sementara aku akan pergi pulang. "Eh, kamu mau kemana?" tanyanya. "Ya mau pulang lah." jawabku. "Gak ikut mandi aja?" tawarnya. "Hah?" Aku terkejut. "Maksud kamu?" tanyaku memastikan. "Kamu mandi di rumahku aja. Kan gara-gara aku juga kamu jadi basah kuyup." jelasnya. "Umm, gak usah. Aku mandi di rumahku aja." tolakku. "Ayolah, kamu kan udah nganter aku pulang!" rajuknya. Ia terlihat sangat imut. "Ya udah deh, terserah kamu aja."
Aku menunggu Dion selesai mandi. Setelah Dion selesai, aku terkejut. Dion hanya memakai handuk. "Kok muka kamu merah begitu, Sen?" tanyanya. "Gak apa-apa." jawabku canggung. "Ya sudah. Kamar mandinya di sebelah sana." katanya. Aku pun dengan cepat masuk ke kamar mandinya. Kamar mandinya agak besar untuk satu orang. Aku membuka keran shower yang ada di kamar mandi itu. Dan kupandang cermin di depanku. Wajahku memerah.
Setelah aku selesai, aku menghampiri Dion yang sedang minum teh yang mungkin disediakan oleh maidnya di ruang tamunya. "Eh, trus aku pake baju apaan?" tanyaku. Dion yang yang tadi menyeruput tehnya, tersedak. "Uhuk..uhuk.. kamu ngagetin aku aja. Nih, bajunya!" Dion melemparkan kaus hitam dan celana selutut ke arahku. "Baju siapa, nih?" tanyaku. "Bajunya Rudy." jawabnya singkat. "Rudy siapa?" tanyaku lagi. "Orang yang selalu kamu sebut maid" jawabnya sembari menyeruput tehnya. "Oh, maidmu."
Aku langsung memakai baju itu tanpa berpindah ke ruangan lain. "Heh, kamu gak malu apa?" tanyanya terkejut. "Nggak. Lagian di sini nggak ada cwe, kan? Ngapain malu? Apa jangan-jangan kamu yang malu ngliat aku? Haha." candaku. "Ih, kamu ini!" ucapnya sembari mencubit lenganku. Aku terkikik geli melihat tingkahnya.
Setelah aku selesai berpakaian, aku mengambil pakaian basahku dan bersegera pulang. Tiba-tiba, ketika kusampai di depan pintu rumah Dion, hujan turun dengan derasnya. "Wah, hujan!" seruku. "Nginep aja di rumahku." katanya. Aku tersentak. "Eh, beneran?" tanyaku. "Iya." jawabnya. Dalam hati tentu aku serasa bagai di alam mimpiku sendiri.
=========
Dion P.O.V
Seperti biasanya, aku selalu di ajak bermain layangan oleh Sena. Yah, akibat perlakuan teman sekelasku, aku jadi malas. Tapi, lagi-lagi Sena mengembalikkan mood-ku. Tentu saja dengan kejailannya. Dan akibatnya badanku jadi basah kuyup. Aku dibuat cemberut lagi oleh candanya, tapi itu tidak seperti rasa jengkelku pada teman sekelasku itu. Ini mungkin rasa jengkel yang membuat orang merasa lebih baik.
Dan dia pun mengantarku pulang. Kutawari dia untuk mandi di rumahku. Sempat ia menolaknya, tapi pada akhirnya dia pun menerimanya karena aku bersikeras.Entah mengapa aku begitu bersikeras, mungkin karena aku ingin membalas kebaikannya. Lalu, aku mandi. Dan setelah selesai aku menghampirinya hanya dengan balutan handuk di bagian bawah tubuhku. Wajahnya memerah. Aku sedikit khawatir apakah wajahnya memerah karena ia menunggu terlalu lama dan kedinginan atau entahlah karena apa.
Dan giliranku menunggunya selesai mandi. Sambil menunggu aku menyeruput teh yang disediakan Rudy. Dan aku tersedak karena Sena mengagetkanku. Aku memberinya pakaian Rudy karena pakaianku mungkin akan kekecilan jika dipakai olehnya.
Dia memakai pakaiannya di depanku. Tentu saja aku terkejut. Tapi, lagi-lagi aku hanya tertegun dengan jawabannya. Setelah ia selesai dan membenahi pakaiannya yang basah, hujan pun turun dengan derasnya. Jadi kutawari saja teman lamaku ini untuk menginap di rumahku. Anehnya, ia berbinar seperti ditawari untuk tinggal di surga.
=========
bersambung~
Jumat, 01 Februari 2013
I Hope We Always Together Part IV
Sena P.O.V
Kupandangi Dion yang sedang belajar di kelas sebrang dari jendela kelasku. “Hoy!” kejut Geo, temanku yang berada di bangku sebelahku. “Apaan sih, bro?” ketusku. “Ngliatin apa, bro?” tanyanya. “Ngliatin pemandangan sekolah ini.” jawabku. Geo melihatku dengan pandangan tidak yakin. Aku berusaha membuat wajahku agar tampak meyakinkan dan akhirnya berhasil. “Oh. Ya sudah. Tuh, sebentar lagi pak guru udah mau masuk kelas, bro.” katanya. “Thanks, bro.” balasku. Kegiatan sekolahku pun dimulai sampai selesai dan pulang sekolah.
Setelah sampai, Dion memasang muka cemberut. Muka cemberutnya itu membuatku terpesona padanya. “Udah nggak usah vemberut. Mukamu malah jelek kayak monyet tahu!” ledekku. “Huh, dasar! Sekarang mau main apa?” tanyanya. “Layangan!” jawabku dengan semangat. “Anginnya bagus, nih!” tambahku. “Trus, dimana layangannya?” tanyanya. “Tunggu sebentar. Aku beli di sana dulu.” Aku pun berlari menuju penjual layangan yang tak jauh dari tempat Dion menungguku. Aku membeli layangannya dan kembali ke tempat Dion menungguku.
Kupandangi Dion yang sedang belajar di kelas sebrang dari jendela kelasku. “Hoy!” kejut Geo, temanku yang berada di bangku sebelahku. “Apaan sih, bro?” ketusku. “Ngliatin apa, bro?” tanyanya. “Ngliatin pemandangan sekolah ini.” jawabku. Geo melihatku dengan pandangan tidak yakin. Aku berusaha membuat wajahku agar tampak meyakinkan dan akhirnya berhasil. “Oh. Ya sudah. Tuh, sebentar lagi pak guru udah mau masuk kelas, bro.” katanya. “Thanks, bro.” balasku. Kegiatan sekolahku pun dimulai sampai selesai dan pulang sekolah.
Ketika pulang sekolah aku akan ngajak Dion untuk bermain
layangan seperti dulu di lapangan yang tak jauh dari rumahnya dan rumahku hanya
bersepeda. Jadi, aku pulang, mengganti pakaianku, makan siang, dan bersepeda
menuju rumah Dion.
Ketika sampai di rumah Dion, aku mengetuk pintu rumahnya.
Pintu rumahnya terbuka, namun yang muncul adalah seorang lelaki, tapi bukan
ayah Dion. “Selamat siang. Dionnya ada?” tanyaku. “Selamat siang. Kamu siapanya
tuan muda dan ada urusan apa?” tanya lelaki itu. “Mungkin ini maidnya Dion.” pikirku.
“Aku temannya dan aku mau ngajak Dion main di lapangan sana.” jawabku. “Ya
sudah, masuk dulu. Nanti saya panggilkan.” Lelaki itu mempersilahkanku masuk
dan pergi memanggil Dion.
Aku menunggu. Akhirnya Dion muncul. “Kamu mau ngajak aku
main apa?” tanyanya. “Udahlah nanti kamu tahu sendiri.” jawabku. “Oh, ya sudah.
Aku pergi bareng temnku.” pamitnya pada maidnya itu. “Iya. Hati-hati di jalan
ya, Tuan Muda!” ucap maidnya sembari mencubit pipinya. Dalam hati aku cemburu.
Dion cemberut, sementara maidnya tertawa kecil. “Panggil Dion saja, gak usah
Tuan Muda. Jangan cubit pipiku dong!” perintahnya. “Iya. Saya usahakan.” balas maid-nya.
Dion membonceng sepedaku. “Pegangan dong, Dion! Nanti jatuh
loh!” peringatku. “Nggak ah!” balasnya. Akhirnya aku percepat laju sepedaku
supaya Dion berpegangan erat padaku dan dan berhasil. Aku merasa senang. “Jangan
cepat-cepat, Sen!” teriaknya. “Sebentar lagi juga sampai kok. Kamu pegangan
yang erat aja!” kataku.
Setelah sampai, Dion memasang muka cemberut. Muka cemberutnya itu membuatku terpesona padanya. “Udah nggak usah vemberut. Mukamu malah jelek kayak monyet tahu!” ledekku. “Huh, dasar! Sekarang mau main apa?” tanyanya. “Layangan!” jawabku dengan semangat. “Anginnya bagus, nih!” tambahku. “Trus, dimana layangannya?” tanyanya. “Tunggu sebentar. Aku beli di sana dulu.” Aku pun berlari menuju penjual layangan yang tak jauh dari tempat Dion menungguku. Aku membeli layangannya dan kembali ke tempat Dion menungguku.
“Nih, layangannya! Sesuai dengan warna kesukaan kita, merah
dan kuning. Yuk, terbangin! Nanti gantian, dimulai dari aku dulu ya!” seruku. “Oke!”
serunya juga. Dion memegang layangannya dan menerbangkannya. “Wah, anginnya emang
bagus, nih! Layangannya kelihatan bagus! ” serunya. “Siapa dulu yang pilih!
Haha!” Aku senang bisa kembali bermain-main bersama Dion.
Selang beberapa lama, akhirnya gantian Dion yang memainkan
layangannya. Kemampuanhya sama seperti dulu.
Kami pun bermain hingga sore. “Nih, layangannya, Sen!” Dion memberikan
layangannya padaku. “Untuk kamu aja. ” balasku. “Beneran? Wah, makasih banyak,
Sen!” Dion kelihatan seneng banget. “Ya udah. Yuk, pulang! Aku anterin.
Pegangan yang erat kayak tadi lho!” perintahku. Wajahnya cemberut seketika. “Udah
nggak usah pake cemberut segala. Ayo naik!” kataku sambil mencubit pipinya.
==========
Dion P.O.V
Selang beberapa lama setelah pulang sekolah, Sena ke rumahku
dan mengajakku bermain. Entah apa yang akan kita berdua mainkan. Dan kebiasaan
yang tidak kusukai dari Rudy, pelayanku, yaitu mencubit pipiku dan memanggilku “Tuan
Muda” terlihat dihadapan Sena. Tentu saja aku malu, tapi Sena tak terlihat
seperti menahan tawa, syukurlah.
Sena mengajakku ke lapangan dengan sepedanya. Dia menyuruhku
untuk berpegangan dengan erat. Tentu saja aku tidak mau. Dan akhirnya Sena
ngebut. Karena aku takut jadi aku berpegangan dengan erat. Akhirnya sampai
juga. Aku mulai jengkel dengan Sena.
Tapi, lagi-lagi Sena dapat membuatku senang setelah ia
membuatku jengkel. Aku senang dapat memainkan layangn lagi. Aku berhenti
memainkan layangan bukan karena bosan, tapi karena aku tak punya kawan seperti
Sena. Aku senang karena Sena kembali bersamaku lagi meski masih ada sisi yang
membuatku jengkel darinya.
Dia membeli layangan dengan warna kesukaanku dan dia, merah
dan kuning. Jika layangan itu miliku, pasti layangan itu akan menjadi layangan
kesukaanku.
Hari sudah sore. Seperti permohonan yang dikabulkan, Sena
memberikan layangan itu padaku. Sena mengantarku pulang dengan sepedanya dan
lagi-lagi aku harus berpegangan dengan erat karena dia ngebut lagi. Wajahku
yang tadinya cerah, jadi kusut gara-gara ulahnya juga.
==========
bersambung~
Senin, 28 Januari 2013
I Hope We Always Together Part III
Sena P.O.V
Lagi-lagi aku bertemu Dion di stasiun kereta api yang tak jauh dari sekolah setelah pulang sekolah. "Hai! Kita bertemu lagi! Mau makan bareng?" tawarku. Dion diam saja, mungkin dia malu-malu. "Ayolah, kita kan teman lama, nggak usah sungkan!" paksaku sembari menarik tangannya menuju sebuah restoran yang tak jauh dari sana.
"Nah, sekarang kau mau makan apa? Nanti aku yang bayar." tawarku. "Nasi goreng dan es jeruk aja." jawabnya. "Wah, kau masih sama yah! Apakah kau masih suka main layang-layang di festival seperti dulu?" tanyaku. "Udah tidak." jawabnya singkat.
Mendengar jawabannya yang selalu singkat padaku selalu membuatku merasa tidak enak. "Umm, maaf sebenarnya aku gak lupa kok sama kamu." ucapnya. "Wah, bagus dong kalau begitu! Kita tak perlu canggung seperti ini. Ngomong-ngomong, kamu udah gak berminat lagi main layang-layangan, kenapa?" tanyaku. "Yah, hanya bosan saja." jawabnya kemudian.
Makanan yang kami pesan sudah tersedia di atas meja kami. Setelah kami selesai menyantap makan siang kami. "Eh, aku boleh main ke rumah kamu nggak? Sekalian kasih salam dan titip salam ke orang tua kamu juga." tanyaku. "Hmm, tentu." jawabnya. "Jadi, dimana rumahmu?" tanyaku. "Nggak jauh kok, cukup jalan kaki aja dari sini."
Setelah sampai di rumahnya yang ternyata tak terlalu jauh dari tempat tinggalku, jadi aku bisa main ke sini lain waktu. "Maaf kalau rumahku agak kelihatan berantakan." katanya. "Ah, gak apa-apa. Orang tua kamu lagi kerja?" Dia mengangguk. "Jadi, kita mau main atau mau ngerjain pr bareng nih?" tanyaku. "Ngerjakan pr bareng. Ayo ke kamarku!" ajaknya.
Aku masuk ke kamar baru Dion yang rapi banget. "Wah, kamarmu rapi banget! Kamu rajin banget!" seruku dengan gemas sembari mencubit pipi Dion. "Ih, sakit! Yang bersihin kamarku itu pelayanku." tuturnya. "Ternyata Dion punya seorang maid." godaku. Dion cemberut. "Maid itu buat perempuan, yang buat laki-laki itu butler, tau!" pekiknya. "Aduh, betapa imutnya dia kalau cemberut" pikirku. "Ah, sama saja artinya, Dion! Yuk, ngerjain pr-nya aja!" bujukku. Akhirnya aku dan Dion mengerjakan pr kita masing-masing bersama hingga selesai.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.00. "Kryuuuuk!" perutku berbunyi. Dion menoleh ke arahku. "Kau lapar? Umm, pembantuku sedang keluar. Hmm, aku buatkan makanan ya." katanya dengan nada yang meragukan. "Umm, tidak usah. Aku bisa makan di rumah." ucapku. "Sudahlah, tidak apa-apa." katanya dan berlari ke dapur rumahnya. Aku menunggu dan perasaanku mulai tak enak. Aku pun ikut menuju ke dapur rumahnya. "Ya ampun!" seruku. Dion terlonjak kaget ketika melihatku dan menunduk. Dapur rumahnya jadi berantakan. "Udahlah tidak apa-apa, nanti aku yang bereskan sekalian memasak makanannya. Sekarang kamu duduk saja." hiburku. Aku mulai membersihkan alat makan dan kompornya yang terkena makanan, lalu mulai memasak.
"Nah, makanannya udah jadi! Silahkan dinikmati bersama!" seruku. "Terima kasih." katanya. "Yang seharusnya berterima kasih itu aku." balasku. Lalu, kami menyantap makanan itu bersama.
Jam sudah menjukkan pukul 15.30. "Sudah sore, nih. Aku pulang dulu ya. Makasih banyak." pamitku sembari mengelus kepala Dion. Dan aku pulang ke rumahku yang berada di kos sederhana tak jauh dari rumahnya.
=============
Dion P.O.V
Lagi-lagi aku bertemu dengannya lagi di stasiun. Dan dia mengajakku makan siang bersama. Dia ingin ke rumahku dan aku membolehkannya lagipula aku bosan berada sendirian di rumah karena Rudy, pelayanku sedang mengerjakan tugas sambilannya.
Yah, meski dia sempat membuatku cemberut karena aku mempunyai "maid" dan dia mencubit pipiku juga. Tapi, dia kembali mencairkan suasana. Di saat dia lapar, aku coba untuk memasak, dan hasilnya adalah dapurku berantakan, aku gemetaran dan malu, tapi Sena yang menenangkanku juga membersihkan semuanya. Yah, dia memang sahabat yang baik, yang terkadang membuatku jengkel juga. Rasanya kalau ada dia itu seperti kembali memainkan layang-layangku yang dulu, terkadang menyenangkan, tapi juga menjengkelkan ketika tersangkut di atas pohon atau benangnya putus. Humph, aku rindu dengan hal-hal itu. Dan ketika ia mengelus kepalaku sebelum ia pulang, rasanya sudah lama sekali aku tak merasakan hal ini.
=============
bersambung~
Lagi-lagi aku bertemu Dion di stasiun kereta api yang tak jauh dari sekolah setelah pulang sekolah. "Hai! Kita bertemu lagi! Mau makan bareng?" tawarku. Dion diam saja, mungkin dia malu-malu. "Ayolah, kita kan teman lama, nggak usah sungkan!" paksaku sembari menarik tangannya menuju sebuah restoran yang tak jauh dari sana.
"Nah, sekarang kau mau makan apa? Nanti aku yang bayar." tawarku. "Nasi goreng dan es jeruk aja." jawabnya. "Wah, kau masih sama yah! Apakah kau masih suka main layang-layang di festival seperti dulu?" tanyaku. "Udah tidak." jawabnya singkat.
Mendengar jawabannya yang selalu singkat padaku selalu membuatku merasa tidak enak. "Umm, maaf sebenarnya aku gak lupa kok sama kamu." ucapnya. "Wah, bagus dong kalau begitu! Kita tak perlu canggung seperti ini. Ngomong-ngomong, kamu udah gak berminat lagi main layang-layangan, kenapa?" tanyaku. "Yah, hanya bosan saja." jawabnya kemudian.
Makanan yang kami pesan sudah tersedia di atas meja kami. Setelah kami selesai menyantap makan siang kami. "Eh, aku boleh main ke rumah kamu nggak? Sekalian kasih salam dan titip salam ke orang tua kamu juga." tanyaku. "Hmm, tentu." jawabnya. "Jadi, dimana rumahmu?" tanyaku. "Nggak jauh kok, cukup jalan kaki aja dari sini."
Setelah sampai di rumahnya yang ternyata tak terlalu jauh dari tempat tinggalku, jadi aku bisa main ke sini lain waktu. "Maaf kalau rumahku agak kelihatan berantakan." katanya. "Ah, gak apa-apa. Orang tua kamu lagi kerja?" Dia mengangguk. "Jadi, kita mau main atau mau ngerjain pr bareng nih?" tanyaku. "Ngerjakan pr bareng. Ayo ke kamarku!" ajaknya.
Aku masuk ke kamar baru Dion yang rapi banget. "Wah, kamarmu rapi banget! Kamu rajin banget!" seruku dengan gemas sembari mencubit pipi Dion. "Ih, sakit! Yang bersihin kamarku itu pelayanku." tuturnya. "Ternyata Dion punya seorang maid." godaku. Dion cemberut. "Maid itu buat perempuan, yang buat laki-laki itu butler, tau!" pekiknya. "Aduh, betapa imutnya dia kalau cemberut" pikirku. "Ah, sama saja artinya, Dion! Yuk, ngerjain pr-nya aja!" bujukku. Akhirnya aku dan Dion mengerjakan pr kita masing-masing bersama hingga selesai.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.00. "Kryuuuuk!" perutku berbunyi. Dion menoleh ke arahku. "Kau lapar? Umm, pembantuku sedang keluar. Hmm, aku buatkan makanan ya." katanya dengan nada yang meragukan. "Umm, tidak usah. Aku bisa makan di rumah." ucapku. "Sudahlah, tidak apa-apa." katanya dan berlari ke dapur rumahnya. Aku menunggu dan perasaanku mulai tak enak. Aku pun ikut menuju ke dapur rumahnya. "Ya ampun!" seruku. Dion terlonjak kaget ketika melihatku dan menunduk. Dapur rumahnya jadi berantakan. "Udahlah tidak apa-apa, nanti aku yang bereskan sekalian memasak makanannya. Sekarang kamu duduk saja." hiburku. Aku mulai membersihkan alat makan dan kompornya yang terkena makanan, lalu mulai memasak.
"Nah, makanannya udah jadi! Silahkan dinikmati bersama!" seruku. "Terima kasih." katanya. "Yang seharusnya berterima kasih itu aku." balasku. Lalu, kami menyantap makanan itu bersama.
Jam sudah menjukkan pukul 15.30. "Sudah sore, nih. Aku pulang dulu ya. Makasih banyak." pamitku sembari mengelus kepala Dion. Dan aku pulang ke rumahku yang berada di kos sederhana tak jauh dari rumahnya.
=============
Dion P.O.V
Lagi-lagi aku bertemu dengannya lagi di stasiun. Dan dia mengajakku makan siang bersama. Dia ingin ke rumahku dan aku membolehkannya lagipula aku bosan berada sendirian di rumah karena Rudy, pelayanku sedang mengerjakan tugas sambilannya.
Yah, meski dia sempat membuatku cemberut karena aku mempunyai "maid" dan dia mencubit pipiku juga. Tapi, dia kembali mencairkan suasana. Di saat dia lapar, aku coba untuk memasak, dan hasilnya adalah dapurku berantakan, aku gemetaran dan malu, tapi Sena yang menenangkanku juga membersihkan semuanya. Yah, dia memang sahabat yang baik, yang terkadang membuatku jengkel juga. Rasanya kalau ada dia itu seperti kembali memainkan layang-layangku yang dulu, terkadang menyenangkan, tapi juga menjengkelkan ketika tersangkut di atas pohon atau benangnya putus. Humph, aku rindu dengan hal-hal itu. Dan ketika ia mengelus kepalaku sebelum ia pulang, rasanya sudah lama sekali aku tak merasakan hal ini.
=============
bersambung~
Sabtu, 26 Januari 2013
I Hope We Always Together Part II
Sena P.O.V
Hari pertama aku berada di sekolah ini. Hmm, tak buruk juga. Anehnya aku merasa kalau Dion juga bersekolah di sini. Aku berharap ia bersekolah di sini juga. Aku rindu dengan tawanya yang lucu itu dan wajahnya yang manis itu.
Dan pelajaran dimulai hingga selesai, karena aku sudah kenal dengan beberapa siswa, jadi aku tidak terlihat canggung. Aku dan teman baruku ini menuju ke kantin sekolah ini. Kulihat seorang siswa tengah duduk sendirian, ingin rasanya aku mendekatinya dan mengajaknya berteman. Akhirnya aku meminta pindah dan aku mendekati siswa itu. Siswa itu memalingkan wajahnya. Karena au tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, ku ajak berkenalan saja. "Hai, namaku Sena Aditya, siswa baru di sini. Siapa namamu?" tanyaku. "Aku Dion." jawabnya singkat. Aku terkejut karena namanya Dion. "Dion Terata?" tanyaku sekali lagi. Siswa itu menoleh. "Kamu tau darimana?" tanyanya. Aku kegirangan gak karuan. "Wah, ini benar-benar kau! Masa kamu tidak ingat sama aku, tema masa kecilku" Siswa itu kembali memalingkan wajahnya. "Aku lupa." jawabnya dengan singkat. "Gubrak!" rasanya seperti tertimpa bata, dia melupakan aku. "Ya sudahlah tidak apa-apa. Kita bisa mulai dari awal. Sampai ketemu nanti."
=============
Dion P.O.V
Sudah lama aku tak bertemu Sena dan ia berada di sini di saat aku sendirian. Sebenarnya aku hanya berpura-pura cuek dan tak ingat padanya. Aku masih mengingat kejahilannya padaku, namun kemudian kembali berbaikan, dan aku masih ingat ketika ia mengusap kepalaku. Aneh, aku merasa sudah lama sekali aku tidak merasakan hal seperti ini.
=============
Hari pertama aku berada di sekolah ini. Hmm, tak buruk juga. Anehnya aku merasa kalau Dion juga bersekolah di sini. Aku berharap ia bersekolah di sini juga. Aku rindu dengan tawanya yang lucu itu dan wajahnya yang manis itu.
Dan pelajaran dimulai hingga selesai, karena aku sudah kenal dengan beberapa siswa, jadi aku tidak terlihat canggung. Aku dan teman baruku ini menuju ke kantin sekolah ini. Kulihat seorang siswa tengah duduk sendirian, ingin rasanya aku mendekatinya dan mengajaknya berteman. Akhirnya aku meminta pindah dan aku mendekati siswa itu. Siswa itu memalingkan wajahnya. Karena au tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, ku ajak berkenalan saja. "Hai, namaku Sena Aditya, siswa baru di sini. Siapa namamu?" tanyaku. "Aku Dion." jawabnya singkat. Aku terkejut karena namanya Dion. "Dion Terata?" tanyaku sekali lagi. Siswa itu menoleh. "Kamu tau darimana?" tanyanya. Aku kegirangan gak karuan. "Wah, ini benar-benar kau! Masa kamu tidak ingat sama aku, tema masa kecilku" Siswa itu kembali memalingkan wajahnya. "Aku lupa." jawabnya dengan singkat. "Gubrak!" rasanya seperti tertimpa bata, dia melupakan aku. "Ya sudahlah tidak apa-apa. Kita bisa mulai dari awal. Sampai ketemu nanti."
=============
Dion P.O.V
Sudah lama aku tak bertemu Sena dan ia berada di sini di saat aku sendirian. Sebenarnya aku hanya berpura-pura cuek dan tak ingat padanya. Aku masih mengingat kejahilannya padaku, namun kemudian kembali berbaikan, dan aku masih ingat ketika ia mengusap kepalaku. Aneh, aku merasa sudah lama sekali aku tidak merasakan hal seperti ini.
=============
bersambung~
Jumat, 18 Januari 2013
I Hope We Always Together Part I
"Hey, kembalikan layanganku dong!" teriak
Dion. "Nggak mau! Sini ambil kalau bisa!" balas Sena. Dion mulai
mendekati Sena. Sena tersandung batu dan terjatuh dan Dion pun ikut terjatuh di
atas tubuh Sena.
"Yes! Akhirnya aku dapat!" seru Dion sembari merebut layangannya dari tangan Sena. Sena bangkit dari tempatnya. "Aduh!" Sena mengaduh dan memegangi lututnya yang berdarah. "Eh, kamu nggak apa-apa?" tanya Dion yang mulai khawatir. "Ah, ini cuma luka biasa! Nggak apa-apa kok." jawab Sena. "Tunggu sebentar ya!" Dion pergi, sementara Sena menunggu di bawah pohon.
Akhirnya Dion kembali membawa kotak P3K dan sebotol air. "Tahan ya.." ucap Dion sembari menuangkan air ke lutut Sena yang berdarah. "Uh!" seru Sena. Dion mulai menatap Sena dengan tatapan meyakinkan. Lalu, Dion meneteskan obat merah dan membalutnya dengan perban. "Selesai!" seru Dion. Sena berdiri dan melenggangkan kakinya. "Makasih. Eh, terbangkan layanganmu dong!" pinta Sena. "Oke!" Dion menerbangkan layangannya. "Indah. Umm, berjanjilah kalau kita akan selalu bersama. Kita ini teman, bukan?" pinta Sena. Dion mengangguk. Mereka pun mengaitkan kelingking mereka.
Mereka berdua selalu bermain bersama-sama, sampai suatu ketika Dion akan pindah keluar kota karena orang tuanya dipindah tugaskan. "Maafkan aku, Sen. Aku tidak bisa menepati janjiku." ucap Dion yang mulai meneteskan air mata. "Kita bisa bertemu suatu hari nanti kok." Sena tersenyum dan mulai menenangkan Dion. "Semoga bertemu kembali." ucap Sena. Dion dan orang tuanya mulai menaiki kereta. Dion melambai dan Sena membalasnya.
=============
Sena
7 tahun berlalu. Dengan beasiswanya, Sena dipindahkan ke sekolah di luar kota. Di sekolah barunya, ia merasakan adanya Dion. Namun, ia mulai berpikir bahwa ia tidak bisa terus berharap akan bertemu Dion. Perasaannya yang terpendam pada Dion sejak kecil, masih ia simpan rapat-rapat dalam hatinya.
=============
Dion
Sudah 7 tahun ia tak bertemu temannya, Sena. Dion sudah menganggap Sena sebagai saudaranya sendiri.
Ia berjalan-jalan di sekitar sekolah dan terlihat siswa baru yang duduk di tepi air mancur sekolah. Terlintas dipikirannya bahwa siswa itu adalah Sena, tapi ia mulai berpikir kalau ia mungkin hanya berhalusinasi dan pergi.
=============
bersambung~
"Yes! Akhirnya aku dapat!" seru Dion sembari merebut layangannya dari tangan Sena. Sena bangkit dari tempatnya. "Aduh!" Sena mengaduh dan memegangi lututnya yang berdarah. "Eh, kamu nggak apa-apa?" tanya Dion yang mulai khawatir. "Ah, ini cuma luka biasa! Nggak apa-apa kok." jawab Sena. "Tunggu sebentar ya!" Dion pergi, sementara Sena menunggu di bawah pohon.
Akhirnya Dion kembali membawa kotak P3K dan sebotol air. "Tahan ya.." ucap Dion sembari menuangkan air ke lutut Sena yang berdarah. "Uh!" seru Sena. Dion mulai menatap Sena dengan tatapan meyakinkan. Lalu, Dion meneteskan obat merah dan membalutnya dengan perban. "Selesai!" seru Dion. Sena berdiri dan melenggangkan kakinya. "Makasih. Eh, terbangkan layanganmu dong!" pinta Sena. "Oke!" Dion menerbangkan layangannya. "Indah. Umm, berjanjilah kalau kita akan selalu bersama. Kita ini teman, bukan?" pinta Sena. Dion mengangguk. Mereka pun mengaitkan kelingking mereka.
Mereka berdua selalu bermain bersama-sama, sampai suatu ketika Dion akan pindah keluar kota karena orang tuanya dipindah tugaskan. "Maafkan aku, Sen. Aku tidak bisa menepati janjiku." ucap Dion yang mulai meneteskan air mata. "Kita bisa bertemu suatu hari nanti kok." Sena tersenyum dan mulai menenangkan Dion. "Semoga bertemu kembali." ucap Sena. Dion dan orang tuanya mulai menaiki kereta. Dion melambai dan Sena membalasnya.
=============
Sena
7 tahun berlalu. Dengan beasiswanya, Sena dipindahkan ke sekolah di luar kota. Di sekolah barunya, ia merasakan adanya Dion. Namun, ia mulai berpikir bahwa ia tidak bisa terus berharap akan bertemu Dion. Perasaannya yang terpendam pada Dion sejak kecil, masih ia simpan rapat-rapat dalam hatinya.
=============
Dion
Sudah 7 tahun ia tak bertemu temannya, Sena. Dion sudah menganggap Sena sebagai saudaranya sendiri.
Ia berjalan-jalan di sekitar sekolah dan terlihat siswa baru yang duduk di tepi air mancur sekolah. Terlintas dipikirannya bahwa siswa itu adalah Sena, tapi ia mulai berpikir kalau ia mungkin hanya berhalusinasi dan pergi.
=============
bersambung~
Selasa, 04 Desember 2012
Mean of Heart 2
Sudah tiga tahun berlalu dan kini Reito akan
lulus SMA dan akan berkuliah di luar kota. Sebelum Reito pergi, ia mengunjungi
danau yang selalu ia kunjungi untuk yang terakhir kalinya. Akhirnya dia pun
pergi meninggalkannya.
Ketika Reito menatap gelang yang ia temukan di atas meja belajarnya saat di perjalanan. Terbayang wajah seorang lelaki yang berhubungan dengan gelangnya tersebut, namun wajahnya terkabur dari ingatannya. Kepala Reito terlalu sakit untuk mencoba mengingatnya. Akhirnya Reito pun sampai di tempat tujuannya dan memulai sekolahnya.
Keesokan harinya ketika pulang sekolah, Reito
yang sedang melamun, hendak menyebrang jalan. Tiba-tiba sebuah mobil melaju dan
hamper menabrak Reito, namun Seiki mendorong Reito, sehingga Seikilah yang
tertabrak. Dengan mata berkaca-kaca, Reito menghampiri Seiki yang sudah penuh
dengan darah. Seiki membisikkan sesuatu ke telinga Reito dan tak sadarkan diri.
Akito juga menghampirinya. Lalu, tubuh Seiki segera dilarikan ke rumah sakit
didampingi Reito, Akito, dan Professor Akise, keluarganya.
Ketika Reito menatap gelang yang ia temukan di atas meja belajarnya saat di perjalanan. Terbayang wajah seorang lelaki yang berhubungan dengan gelangnya tersebut, namun wajahnya terkabur dari ingatannya. Kepala Reito terlalu sakit untuk mencoba mengingatnya. Akhirnya Reito pun sampai di tempat tujuannya dan memulai sekolahnya.
Reito melalui hari-harinya dengan bersekolah di
sana. Reito berjalan-jalan sambil melamun di lapangan dekat sekolahnya.
Tiba-tiba, bola basket menghantam kepalanya. Kepala Reito terasa sangat sakit.
Reito teringat hari-hari bersama Ryuki yang selalu menemaninya dan membuatnya
merasa nyaman. Namun, sekarang Ryuki sudah menghilang. Yang terbesit di
pikirannya sekarang adalah dimana keberadaan Ryuki.
Keesokan harinya, Reito yang sedang menyiapkan
buku catatannya, tanpa sengaja mendengar ucapan temannya bahwa di sekolahnya
akan ada murid dan guru baru. “Eh, katanya kita ada guru dan murid baru
loh!”seru teman perempuan sekelas Reito. “Iya. Kudengar murid baru itu bernama
Ryu Seiki kelas 10-01 dan guru baru itu bernama Ryu Akise mengajar kimia
kelas kita.”seru yang lainnya. “Hey, bagaimana guru baru kita itu?” tanya teman
perempuan yang berada di sebelah Reito. “Kudengar guru kita itu masih muda dan tampan
dan katanya sih dia sangat ramah.”
“Wah, aku ingin melihat seperti apa rupanya! Bagaimana dengan rupa murid baru itu?”
“Umm, entahlah. Tapi, katanya dia memiliki mata yang buatan di sebelah kiri dan dia juga sangat pandai.”
“Wah, aku ingin melihat seperti apa rupanya! Bagaimana dengan rupa murid baru itu?”
“Umm, entahlah. Tapi, katanya dia memiliki mata yang buatan di sebelah kiri dan dia juga sangat pandai.”
Lalu, guru yang menjadi buah bibir murid-murid
perempuan di kelasnya tiba di kelasnya. “Selamat pagi, semua. Saya Ryu Akise 27
tahun. Saya guru baru di sini. Mohon bantuannya.” kenal Akise. Setelah
itu, pelajaran pun dimulai hingga istirahat telah tiba.
Seperti biasanya pada jam istirahat, Reito pergi
ke perpustakaan untuk meminjam dan membaca beberapa buku. Reito akan mengambil
buku aritmatika untuk ia pelajari, namun ada seorang siswa yang akan
mengambilnya juga. “Kamu mau mengambilnya ju..” suara Reito terputus ketika ia
melihat siswa tersebut. Siswa itu berkacamata dan poninya menutupi mata
kirinya. “Umm, kau murid baru itu?” tanya Reito. “Iya. Boleh aku ambil bukunya?”
tanyanya. “Boleh.” jawab Reito. Siswa itu pun mengambil buku tersebut dan pergi
bersama temannya.
Reito terpaku di depan rak buku. Menatap gelang
yang selalu ia pakai. Ia merenung, apakah Ryuki telah kembali. Reito
menggelengkan kepalanya. Dan mengambil buku yang lain, lalu kembali ke
kelasnya.
Pelajaran kembali dimulai hingga usai dan bel
tanda pulang sekolah telah berbunyi.Sebelum Reito pulang ke rumahnya, ia duduk
di tepi danau yang tempatnya tak jauh dari sekolahnya. Ia menatap langit yang
cerah itu. Direnungkannya kejadian yang menimpanya ketika di perpustakaan tadi.
Apakah Ryuki kembali? Kata-kata itu
kembali terngiang di kepalanya.
Tak lama kemudian, jauh di sebelahnya, seorang
laki-laki duduk menatap danau tersebut. Reito menghampirinya. “Hay, boleh aku
duduk di sampingmu?” tanya Reito. “Tentu.” jawabnya dan menoleh ke arah Reito.
Reito terkejut, ternyata laki-laki itu siswa baru tersebut. “Kau yang tadi itu
kan. Mengapa setiap kau melihatku kau selalu kelihatan terkejut? Apakah ada
yang salah dengan diriku?” tanyanya. “Tidak. Kau hanya.. mirip dengan teman
lamaku, itu saja.” jawab Reito sembari duduk di sebelahnya.
Siswa itu diam menatap pemandangan yang ada di
hadapannya. “Ah iya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Sekio Reito dari
kelas 11-03. Dan kau?” tanya Reito. “Aku Ryu Seiki, kelas 10-01.”jawabnya.
“Kelihatannya kau ada masalah. Ada apa?” tanya Reito. “Tidak ada.”jawabnya.
“Ayolah, ceritakan saja! Anggap saja kita sudah lama kenal.” bujuk Reito. “Aku
hanya bingung soal perasaan. Itu saja.”
Reito menatap mata kanan Seiki. Matanya terlihat
kosong. “Memang apa saja yang bisa kau rasakan?” tanya Reito. “Tidak ada,
semuanya terasa hambar. Dan orang-orang yang mengenalku selalu saja menyebutku
tak memiliki rasa, kecuali Akito, teman baruku dan ia memiliki persamaan denganku. Apakah kau juga akan berpikiran
seperti itu padaku?” tanyanya. “Tidak, karena sebenarnya kamu memiliki hal yang
lebih baik. Hanya saja kau tidak mengetahuinya.”jawab Reito sembari tersenyum
pada Seiki. Sementara Seiki hanya menatapnya dengan tatapannya yang kosong. "Apakah kau mengingatku, Ryuki-chan?" tanya Reito tiba-tiba. "Apa?" Ryuki terlihat terkejut. "Tidak." kata Reito, tanpa sadar ia menunjukan ekspresi kecewanya.
Reito mengambil sebungkus roti dari tasnya dan
memotongnya sebagian. “Terimalah!” Seiki mengambil roti pemberian Reito dan
memakannya sedikit. Reito melemparkan sedikit rotinya ke permukaan air danau
dan ikan-ikan yang ada di dalamnya memakannya. Seiki sepertinya tertarik ingin
mencobanya. Ia pun mencobanya dan alhasil remah rotinya dimakan oleh seekor
bebek yang lucu. Seiki tertawa kecil. Reito terpaku. Sudah lama ia tak
mendengar tawa yang ia rindukan itu. Setitik air mata membasahi matanya. “Ada
apa?” tanya Seiki. “Tidak.” jawab Reito. Seiki menatap gelang yang Reito pakai.
“Gelang yang indah.” ucapnya. “Ini gelang pemberian ibuku sewaktu aku masih
kecil dan juga peninggalan kawan lamaku. Ini untukmu saja.” Reito melepaskan
gelang tersebut dan memakaikannya ke pergelangan tangan Seiki. “Terima kasih.
Gelang ini terlihat berharga bagimu, akan aku jaga.” katanya.
Keesokan harinya ketika pulang sekolah, Reito
hendak pergi ke perpustakaan terlebih dahulu untuk mengembalikan buku yang
dipinjamnya, lalu pergi menuju danau. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat
Seiki melompat ke danau. “Ryu-kun!!” teriaknya dengan panik dan segera menyelamatkan
Seiki yang setengah tenggelam. Reito berhasil menyelamatkan Seiki. “Akhirnya
aku mendapatkannya.” ucapnya sembari tersenyum kemudian ia tak sadarkan diri. Dengan
mata berkaca-kaca, Reito segera membawa Seiki ke rumahnya yang tak jauh dari sana
dan memberikan pertolongan pertama. Reito menatap tangan Seiki yang menggenggam
gelangnya. Matanya kembali meneteskan air mata.
Tak lama kemudian, Seiki terbangun. “Aku dimana?”
tanyanya. “Kamu ada di rumahku. Kamu tidak apa-apa kan?” Pipi Seiki memerah. “Mengapa
kamu menangis?” Reito memeluk Seiki dengan erat. “Tidak apa-apa.” Seiki
terdiam. Reito melepaskan pelukannya. “Aku antar kau pulang. Dimana rumahmu?”
tanya Reito. “Dengan keadaan seperti ini?” kata Seiki. “Ah iya, aku akan
memberimu pakaian. Tunggu sebentar.” Reito pergi menuju kamarnya, lalu
mengganti pakaiannya dan mengambil pakaian untuk Seiki. “Ini, pakailah!”
Seiki pun mengganti pakaiannya. “Rumahku ada di
depan jembatan dekat sekolah.” ucapnya. “Baiklah. Ayo naik ke sepedaku.” ajak
Reito yang sudah menaiki sepedanya. Seiki pun menaikinya di belakang. “Pegang
yang erat, agar kau tak jatuh.” Seiki memegang erat baju Reito. Akhirnya,
mereka pun sampai di rumah Seiki. Seiki tak mengucapkan sepatah kata pun. Sementara
Reito kembali ke rumahnya.
Setiap pulang sekolah, Reito dan Seiki selalu
bersama di tepi danau. Tertawa bersama. Seiki yang sebelumnya dingin dan kaku
menjadi ceria bersama dengan Reito.
“Kalian teman dekat Seiki?” tanya Professor
Seiki. “Iya.” jawab Reito dan Akito serempak. “Sebenarnya, Seiki itu aku temukan
di sebuah jurang. Jadi, dia bukanlah keluargaku.”ucap Professor Seiki yang
tertunduk. Dalam hati Reito, ia
terkejut. Di dalam pikirannya, ia mulai berpikir kalau Seiki adalah Ryuki. Sementara
Akito mencoba menenangkan Professor Akise. Dokter keluar dari ruang pemeriksaan
Seiki, katanya Seiki mengalami koma. Mereka bertiga terkejut mendengar hal itu.
Kembali Reito mengingat apa yang terakhir diucapkan Seiki, yaitu “Terima kasih.”
Setelah kejadian itu, Reito pergi ke danau. Hujan
pun turun dengan derasnya. Danau itu menjadi kelabu. Air mata Reito mengalir
deras, bercampur bersama air hujan yang menimpa wajahnya.
Hari-hari selama Seiki koma, Reito selalu
menjenguknya ketika pulang sekolah dan memberikan bunga yang sama setiap
harinya. Suatu ketika, ia tercengang ketika Seiki masih menggenggam gelang
pemberiannya. Digenggamnya tangan Seiki dan dilepaskannya kembali. Tiba-tiba,
jari Seiki bergerak sedikit. Reito pun segera memanggil dokter, lalu Professor
Akise melalui ponselnya. Dokter memeriksa keadaan. Sementara Professor Akise
dan Reito menunggu di ruang tunggu. Setelah dokter keluar dari ruangan itu, ia
mengatakan bahwa Seiki mengalami sedikit perkembangan. Professor Seiki dan Reito
senang mendengar hal itu. Akito yang baru datang menjenguk Seiki turut merasa senang.
"Hey! Kau terlihat perhatian sekali pada Seiki." kata Akise. "Dia mengingatkanku pada teman masa laluku yang sempat aku lupakan." Reito melihat mata Akito yang berbeda warna satu sama lain. "Ngomong-ngomong, ada apa dengan matamu?" tanya Reito. "Dari lahir mataku sudah seperti ini." jawab Akito. Tak lama kemudian Akito pun pergi pulang.
"Hey! Kau terlihat perhatian sekali pada Seiki." kata Akise. "Dia mengingatkanku pada teman masa laluku yang sempat aku lupakan." Reito melihat mata Akito yang berbeda warna satu sama lain. "Ngomong-ngomong, ada apa dengan matamu?" tanya Reito. "Dari lahir mataku sudah seperti ini." jawab Akito. Tak lama kemudian Akito pun pergi pulang.
Beberapa minggu kemudian, Seiki pun tersadar. Dengan
perasaan senang Reito mengunjungi Seiki. Ketika sampai di sana, ia kembali
melihat tatapan kosong Seiki. Professor Akise kelihatannya sudah mengatakan
yang sebenarnya kepada Seiki dan Seiki menatapnya tajam dari kejauhan. Reito hanya terdiam, lalu pulang ke rumahnya.
Keesokkan harinya di danau, Reito melihat Seiki
yang berada di tepi danau. “Hey, apa kabar?” sapa Reito. “Baik.” jawabnya. “Kau
tidak suka dengan kehadiranku?” tanya Reito dan mulai pergi. Namun, Seiki
menarik tangannya dan memeluknya. Air mata membasahi wajahnya. “Jangan pergi,
tetaplah di sisiku!” ucapnya. Reito hanya tersenyum dan membalas pelukannya. “Aku
tidak akan pergi.” kata Reito."Terima kasih."
END~
END~
Langganan:
Komentar (Atom)
